ASPEK.ID, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menargetkan proses restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Whoosh dapat diselesaikan pada semester pertama 2026. Penataan ulang pembiayaan tersebut dilakukan agar tidak membebani kondisi keuangan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI di masa depan.
Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengatakan pihaknya telah merampungkan proposal penawaran terkait skema restrukturisasi utang proyek tersebut. Saat ini, proses selanjutnya menunggu keputusan dari kementerian terkait, termasuk kementerian teknis dan Kementerian Keuangan.
Menurut Dony, Danantara telah menyelesaikan tahapan penyusunan skema penawaran. Keputusan final kini berada di tingkat pemerintah, khususnya di bawah koordinasi kementerian terkait infrastruktur serta otoritas fiskal negara.
Ia berharap pembahasan tersebut dapat segera rampung dalam waktu dekat sehingga penataan ulang utang proyek kereta cepat itu tidak berlarut-larut.
“Harapannya bisa selesai dalam semester ini agar kita bisa segera masuk ke tahap berikutnya,” ujarnya saat ditemui di kawasan Manggarai, Jakarta, Senin (16/3/2026).
Dony menjelaskan bahwa restrukturisasi tidak mengubah total utang proyek, melainkan memperbaiki struktur pembiayaannya agar lebih sehat dan berkelanjutan bagi operasional KAI.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kondisi keuangan perusahaan tetap stabil sehingga tidak menghambat rencana pengembangan transportasi kereta api nasional.
Pemerintah sendiri tengah mendorong percepatan elektrifikasi jalur kereta di sejumlah rute strategis, di antaranya Jakarta–Cikampek, Jakarta–Sukabumi, hingga Jakarta–Rangkasbitung.
Karena itu, Danantara menilai penataan ulang utang proyek Whoosh menjadi krusial. Jika beban keuangan terlalu berat, kemampuan KAI untuk melakukan ekspansi dan mendukung transformasi transportasi massal nasional bisa terhambat.
Dengan restrukturisasi yang lebih sehat, pemerintah berharap pengembangan jaringan kereta api ke depan tetap dapat berjalan tanpa tekanan finansial yang berlebihan bagi operator kereta nasional. []
























