ASPEK.ID, JAKARTA – Anggota DPR RI Fraksi PDIP Andreas Hugo Pareira mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar tidak terburu-buru menjadikan bahasa asing tertentu sebagai mata pelajaran wajib di sekolah. Menurutnya, penetapan mata pelajaran dalam kurikulum tidak bisa dilakukan sembarangan dan harus melalui pertimbangan yang matang.
Andreas mengatakan kurikulum nasional saat ini telah mengatur bahasa-bahasa yang dianggap penting untuk diajarkan kepada peserta didik, termasuk bahasa asing.
“Saya kira di kurikulum kita sudah ditentukan, ya, bahasa-bahasa apa yang penting,” ujar Andreas saat menghadiri kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) PDIP di Jakarta, Sabtu (30/5).
Ia berharap kebijakan terkait pembelajaran bahasa tidak berubah hanya karena adanya pertemuan dengan pemimpin negara tertentu. Menurutnya, kurikulum pendidikan harus disusun berdasarkan kebutuhan nasional dan pertimbangan akademik.
“Jadi, jangan nanti kalau kita ketemu apa, pemimpin dari suatu negara terus kemudian bahasa itu menjadi kurikulum wajib,” katanya.
Andreas menilai saat ini bahasa Inggris masih menjadi bahasa asing yang paling penting untuk diperkuat dalam sistem pendidikan. Selain itu, penguatan bahasa Indonesia juga harus tetap menjadi prioritas.
“Tapi kalau menjadi kurikulum wajib, saya kira kita perlu bahasa Inggris, kita perlu memperkuat bahasa Indonesia, dan itu, ya, saya kira yang paling penting untuk bagaimana pembinaan, ya, pendidikan, terutama pendidikan bahasa,” ujarnya.
Meski demikian, Andreas tidak mempermasalahkan apabila bahasa Prancis diajarkan sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah-sekolah yang memiliki kemampuan dan sumber daya pendukung. Menurutnya, bahasa asing lain seperti Mandarin maupun Jepang juga dapat dijadikan pilihan tambahan bagi siswa.
“Silakan bahwa bahasa Prancis sebagai bahasa pilihan, ya oke bisa aja gitu. Bahasa Mandarin, bahasa Jepang mungkin dan bahasa-bahasa yang lain gitu. Nah itu menjadi kurikulum tambahan untuk anak-anak,” katanya.
Andreas memandang pernyataan Prabowo terkait bahasa Prancis kemungkinan merupakan bagian dari bahasa diplomasi dalam hubungan antarnegara. Namun, ia menegaskan penerapannya sebagai mata pelajaran wajib tetap perlu dikaji lebih lanjut.
Sebelumnya, Prabowo menyampaikan keinginan agar bahasa Prancis diajarkan di seluruh jenjang pendidikan di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan kenegaraan ke Prancis.
Dalam pidatonya di Istana Elysee, Paris, Kamis (28/5), Prabowo menilai hubungan Indonesia dan Prancis tengah berada dalam kondisi yang sangat baik dan perlu diperluas, termasuk pada sektor pendidikan, sains, dan teknologi.
“Saya sudah instruksikan agar semua tingkatan sekolah di Indonesia harus belajar Bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan,” kata Prabowo. []
























