ASPEK.ID – Serangan terhadap Satgas TNI yang tergabung dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) kembali terjadi di Lebanon Selatan. Insiden terbaru ini kembali membawa duka, setelah dua prajurit TNI dilaporkan gugur dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.
Peristiwa ini menjadi serangan kedua yang menelan korban jiwa dari prajurit TNI dalam waktu berdekatan. Sebelumnya, pada insiden pertama, Praka Farizal Rhomadhon dari satuan Yonif 113/JS Brigif 25/Siwah Kodam Iskandar Muda juga gugur dalam menjalankan tugas.
Serangan kedua tersebut terjadi pada Senin (30/3) sekitar pukul 11.00 waktu setempat di wilayah Bani Hayyan, yang merupakan bagian dari area operasi (AO) Indobatt di sektor timur.
Saat kejadian, Indonesian Task Force Bravo (TFB) tengah menjalankan tugas pengawalan (escort) terhadap combat support service unit (CSSU). Misi tersebut mencakup distribusi logistik sekaligus pengantaran peti jenazah menuju Pos 7-1 Indobatt.
Dalam operasi itu, dua kendaraan tempur (ranpur) dikerahkan untuk mengawal enam rangkaian kendaraan CSSU. Namun situasi berubah drastis ketika konvoi melintas di titik rawan. Saat kendaraan pertama hendak berbelok, ledakan hebat tiba-tiba terjadi dan langsung menghantam ranpur terdepan.
Dampaknya fatal. Kendaraan mengalami kerusakan parah dan menyebabkan korban jiwa di pihak prajurit TNI.
Dua personel yang gugur dalam insiden tersebut adalah Kapten Infanteri Zulmi dan Sersan Satu (Sertu) Ikhwan. Keduanya belum dapat dievakuasi hingga kini karena kondisi keamanan di lokasi yang masih sangat berbahaya, menyusul tingginya intensitas serangan.
Sementara itu, dua prajurit lainnya mengalami luka-luka, yakni Kapten Infanteri Sulthan dan Prajurit Kepala (Praka) Deni.
Di tengah situasi genting, kendaraan kedua yang membawa tiga personel—Praka Ulil Amri, Praka M Zakariya, dan Prajurit Satu (Pratu) Iqbal—berhasil mengevakuasi korban luka menuju markas Sektor Timur.
Penanganan medis awal dilakukan pada pukul 12.05 waktu setempat oleh tim medis China di Pos 7-2. Setelah itu, kedua korban luka dievakuasi melalui jalur udara ke Rumah Sakit St George Beirut untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Evakuasi dilakukan secara bertahap. Praka Deni diterbangkan lebih dahulu pada pukul 13.45, disusul Kapten Infanteri Sulthan sepuluh menit kemudian.
Hingga saat ini, jenazah dua prajurit yang gugur masih berada di lokasi kejadian dan belum bisa dievakuasi. Situasi keamanan yang belum kondusif menjadi kendala utama di lapangan.
Pihak TNI menyatakan laporan resmi masih dalam proses penyusunan oleh komando sektor timur. Penyebab pasti ledakan juga masih dalam tahap investigasi.
Perkembangan lebih lanjut akan disampaikan setelah proses penyelidikan selesai. []
























