ASPEK.ID, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyatakan pamit dari jabatannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) setelah lebih dari tiga dekade mengabdi. Dalam momen tersebut, ia menyampaikan permohonan maaf karena belum berhasil membawa pencak silat tampil di Olimpiade.
“Saudara-saudara, ini bolehlah saya nostalgia karena di sinilah saya mohon diri, saya pamit sebagai Ketua Umum-mu, sebagai sebelumnya Wakil Ketua Umum, bisa dikatakan saya ini sudah 34 tahun di kalangan IPSI,” kata Prabowo dalam Munas ke-XVI IPSI di JCC, Jakarta, Sabtu (11/4).
Meski mundur, Prabowo menegaskan komitmennya untuk tetap mendukung perkembangan pencak silat ke depan. Ia optimistis kepemimpinan baru nantinya mampu mewujudkan target besar, termasuk membawa pencak silat ke Olimpiade.
“Dan saya siap terus, akan terus mendukung dengan jabatan ataupun tidak dengan jabatan, ya, seorang pendekar adalah sampai napas dia terakhir, dia pendekar, saudara-saudara,” ujarnya.
Prabowo juga secara terbuka mengakui target besar tersebut belum tercapai selama masa kepemimpinannya.
“Banyak tugas PB IPSI ke depan. Saya minta maaf saya belum berhasil membawa pencak silat ke Olimpiade. Kita terus berusaha, saya kira, saya yakin pengganti saya nanti akan, akan berhasil membawa ke Olimpiade. Saya yakin. Saya tidak tahu apa sudah ada bayangan siapa yang Saudara akan pilih sebagai pengganti saya. Saya sarankan coba dicari calon yang terbaik,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan seluruh insan pencak silat agar tidak terjebak pada ambisi berlebihan. Menurutnya, yang lebih penting adalah menjaga kualitas dan kemurnian ilmu pencak silat.
“Tapi kita tidak perlu juga terlalu obsesi, obsesi kita harus menjaga mutu kemurnian daripada pencak silat itu sendiri, kalau ilmunya murni, ilmunya kuat. Saudara-saudara dari mana-mana akan datang belajar, dan itu sudah terbukti dari banyak negara datang ke kita belajar,” ujarnya.
Prabowo menambahkan, perkembangan pencak silat di negara lain merupakan hal yang wajar. Ia menilai keberhasilan negara lain, seperti Vietnam dan Thailand, juga tak lepas dari peran Indonesia sebagai ‘guru’.
“Kadang-kadang mereka belajar dan jadi hebat-hebat dan ini risiko seorang guru. Kita dulu yang melatih Vietnam, Thailand akhirnya mereka jadi hebat dan mereka pernah kalahkan kita, tidak apa apa karena itu adalah tugas seorang guru,” ujarnya. []
























