ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyampaikan permohonan maaf terkait pernyataannya soal usulan pemindahan gerbong khusus wanita di KRL ke bagian tengah rangkaian.
Arifah mengakui pernyataan tersebut disampaikan dalam situasi yang kurang tepat, terutama karena muncul setelah insiden kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur.
“Terkait pernyataan saya pasca insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, saya menyadari itu kurang tepat,” ujar Arifah dalam keterangan resminya, Kamis (30/4).
Ia juga meminta maaf kepada masyarakat, khususnya korban dan keluarga korban, yang merasa tidak nyaman dengan pernyataan tersebut.
“Saya memohon maaf kepada seluruh masyarakat, terutama korban dan keluarga yang terdampak,” katanya.
Arifah menegaskan tidak ada niat untuk membandingkan aspek keselamatan antara perempuan dan laki-laki. Menurutnya, keselamatan seluruh penumpang harus menjadi prioritas utama tanpa pengecualian.
“Keselamatan semua masyarakat adalah yang utama, baik perempuan maupun laki-laki,” jelasnya.
Saat ini, kata Arifah, pemerintah fokus pada penanganan korban, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka akibat kecelakaan tersebut.
Sebelumnya, Arifah sempat mengusulkan agar gerbong khusus wanita ditempatkan di bagian tengah rangkaian KRL. Usulan itu disampaikan usai menjenguk korban kecelakaan di RSUD Bekasi.
“Kalau bisa, gerbong perempuan ditaruh di tengah,” ujarnya saat itu.
Pernyataan tersebut kemudian menuai sorotan publik dan dinilai tidak sensitif dalam situasi duka pascakecelakaan. []
























