ASPEK.ID, JAKARTA – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat konsumsi Pertalite mengalami kenaikan setelah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, terutama Pertamax dan Pertamax Turbo, sempat naik. Kenaikan tersebut dinilai terjadi karena sebagian masyarakat beralih menggunakan BBM bersubsidi.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan tren pergeseran konsumsi itu terlihat dari data penyaluran harian Pertalite dalam beberapa periode setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
“Ini menunjukkan adanya pergerakan konsumsi BBM, khususnya RON 90 atau Pertalite. Konsumsinya cukup lumayan naik pasca kenaikan harga BBM nonsubsidi, baik Pertamax maupun Pertamax Turbo,” kata Wahyudi dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Sebelum harga Pertamax naik, rata-rata penyaluran Pertalite pada periode 18 April hingga 10 Juni 2026 tercatat sebesar 75.795 kiloliter (KL) per hari. Setelah harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan, konsumsi Pertalite ikut terdongkrak.
Berdasarkan data monitoring BPH Migas, pada periode 10 Juni hingga 1 Juli 2026 konsumsi harian Pertalite meningkat 9,19% atau bertambah sekitar 6.965 KL per hari. Tren kenaikan berlanjut pada periode 1-31 Juli 2026 dengan lonjakan mencapai 12,92% atau sekitar 9.794 KL per hari dibandingkan periode awal.
Memasuki Agustus, kenaikan konsumsi Pertalite mulai melandai. Wahyudi mengatakan kondisi tersebut terjadi setelah harga Pertamax terkoreksi dari Rp 16.250 menjadi Rp 15.950 per liter.
“Periode Agustus hingga saat ini sedikit menurun karena harga Pertamax juga terkoreksi. Artinya, kenaikan konsumsi Pertalite yang rata-rata saat ini mencapai 84.368 KL per hari memang merupakan shifting dari konsumsi Pertamax ke Pertalite,” ujarnya.
Selain Pertalite, BPH Migas juga mencatat penyaluran Solar subsidi atau Jenis BBM Tertentu (JBT) mengalami peningkatan. Rata-rata penyaluran harian Solar naik dari 50.624 KL menjadi 58.271 KL per hari pada Agustus, atau meningkat 15,10%.
Menurut Wahyudi, kenaikan konsumsi Solar dipengaruhi semakin lebarnya disparitas harga antara Solar subsidi dan nonsubsidi. Di sisi lain, aktivitas ekonomi yang meningkat juga mendorong kebutuhan bahan bakar untuk sektor logistik dan transportasi.
Ia menyebut peningkatan kegiatan logistik untuk mendukung ekspor dan impor terjadi di sejumlah wilayah, mulai dari Jawa Timur, Medan, Palembang, Riau, Kalimantan hingga Makassar.
“Ini penting dicermati karena pada triwulan II kegiatan logistik terus meningkat, baik untuk ekspor maupun impor yang kemudian didistribusikan kepada masyarakat di wilayah tersebut,” jelasnya.
Tak hanya sektor logistik, pertumbuhan sejumlah sektor produktif juga ikut mendongkrak konsumsi Solar. BPH Migas mencatat sektor perdagangan tumbuh 6,39% secara year to date (ytd), sektor akomodasi serta makan dan minuman tumbuh 10,60% ytd, sedangkan sektor pertanian tumbuh 3,8% ytd.
“Pertumbuhan sektor-sektor tersebut turut mendorong kenaikan konsumsi minyak Solar, di samping sektor produksi lainnya,” tutup Wahyudi. []
















