ASPEK.ID, MEDAN – Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali erupsi setelah empat tahun tidak menunjukkan aktivitas letusan. Menyusul peningkatan aktivitas vulkanik, sebanyak 2.451 warga dari dua desa yang berada di kawasan rawan bencana mulai dievakuasi.
Erupsi terjadi pada Senin (31/8/2026) sekitar pukul 10.17 WIB. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat kolom abu membumbung hingga sekitar 3.500 meter di atas puncak gunung, dengan warna hitam pekat dan bergerak ke arah timur hingga tenggara.
Kepala Bidang Penanganan Darurat Peralatan dan Logistik BPBD Sumatera Utara, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengatakan keputusan evakuasi diambil setelah rapat koordinasi lintas instansi yang digelar pada Senin malam. Dua desa yang berada paling dekat dengan Gunung Sinabung, yakni Desa Payung dan Desa Kuta Tengah, dikosongkan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi erupsi susulan.
Menurut Sri Wahyuni, sebanyak 2.051 warga Desa Payung akan dipindahkan ke Desa Batukarang. Sementara itu, sekitar 400 warga Desa Kuta Tengah akan dievakuasi ke Desa Sukatepu. Total warga yang terdampak dan harus meninggalkan rumah mencapai 2.451 jiwa.
“BPBD Sumut juga telah mengirimkan sejumlah tenda pengungsian ke Kabupaten Karo setelah sebelumnya dipinjam BPBD Karo. Tenda tersebut disiapkan sebagai tempat tinggal sementara jika dibutuhkan selama masa evakuasi,” katanya, Selasa (1/9/2026).
Meski demikian, BPBD belum memastikan apakah seluruh warga akan ditempatkan di tenda atau di lokasi pengungsian lainnya. Penentuan tempat tinggal sementara masih menunggu arahan dari BPBD Kabupaten Karo.
Sri Wahyuni menambahkan, lamanya masa pengungsian juga belum dapat dipastikan. Keputusan akan bergantung pada perkembangan aktivitas Gunung Sinabung dan rekomendasi terbaru dari PVMBG. Proses evakuasi sendiri melibatkan unsur TNI, Polri, dan Tim Reaksi Cepat (TRC) multisektor.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan erupsi pada Senin pagi merupakan letusan pertama Gunung Sinabung sejak terakhir kali erupsi pada 2022.
Pascaerupsi, PVMBG resmi menaikkan status Gunung Sinabung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Status baru tersebut mulai berlaku pada Senin (31/8/2026) pukul 12.30 WIB setelah hasil pemantauan visual dan instrumental menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Sebelumnya, status Waspada telah berlaku sejak 17 Mei 2023.
BNPB mengingatkan erupsi yang terjadi diduga merupakan erupsi awal sehingga masih berpotensi diikuti letusan yang lebih besar. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, tidak beraktivitas di kawasan rawan, dan mematuhi seluruh rekomendasi yang dikeluarkan PVMBG.
Berton juga mengungkapkan, sebelum erupsi terjadi, alat pemantau merekam peningkatan aktivitas kegempaan berupa 85 kali gempa vulkanik, satu kali gempa hembusan, dan satu kali tremor harmonik. Aktivitas tersebut menjadi indikator meningkatnya tekanan magma sebelum letusan terjadi. []















