ASPEK.ID, JAKARTA – PT Amarta Karya atau AMKA (Persero) optimistis meraih target pendapatan hingga Rp.1,5 triliun pada tahun ini.
Perusahaan BUMN bidang konstruksi ini merombak strategi dengan mengandalkan antara lain Strategic Partnership (kemitran strategis) sebagai motor dalam melipatgandakan pendapatan sekaligus untuk dapat berkontribusi dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional.
”Peningkatan pendapatan perusahaan akan diraih dari tender-tender yang diselenggarakan Pemerintah RI di lini bisnis terkuat AMKA, di mana total potensi pasarnya diperkirakan mencapai Rp.4.759 triliun hingga tahun 2024,” kata Direktur Utama AMKA Nikolas Agung SR dalam keterangan resmi, Jumat (26/2).
Kemudian, merujuk pada Rencana Jangka Menengah Pemerintah 2020-2024 dan Rancangan Rencana Strategis Kementerian PUPR 2020-2024, pembangkit listrik tercatat mempunyai potensi hingga Rp.1.121 triliun, residensial dan komersial berkisar Rp.780 triliun, dan airport sekitar Rp.36 triliun.
Nikolas optimis bahwa target peningkatan pendapatan di tahun 2021 ini bukan hal yang muluk untuk dicapai perseroan meski industri konstruksi tak luput dari terjangan pandemi Covid-19.
Menurutnya, AMKA akan lebih gencar dalam menerapkan strategi bisnis yang lebih inovatif dan efektif agar tetap dapat mencapai target yang ditetapkan di tengah kondisi pandemi saat ini.
“Kemitraan strategis menjadi salah satu strategi kunci untuk mengkonversi peluang di situasi yang sarat tantangan ini,” ujar Nikolas.
Saat ini AMKA tengah menggarap sejumlah proyek dengan project creation strategy tersebut. Diantaranya adalah pembangunan main bridge jalan tol trans Sumatera ruas Sigli-Banda Aceh dan pembangunan rusun Pulo Jahe-Jakarta Timur bersama Dinas Perumahan Rakyat & Pemukiman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Selain itu ada pula kerja sama dengan PT LG Electronics Indonesia dalam hal heating, ventilation, and air conditioning (HVAC).
AMKA kini mempunyai 4 lini bisnis utama, termasuk jasa konstruksi gedung, jasa konstruksi infrastruktur, EPC, dan manufaktur (fabrikasi).
“Kami perlu menciptakan bisnis baru yang bisa memperkuat empat bisnis utama tersebut, yang dapat menghasilkan recurring income untuk membantu menyeimbangkan portfolio revenue perusahaan, sehingga operasi perusahaan lebih sustain ke depannya,” ungkapnya.















