ASPEK.ID, JAKARTA – Cadangan devisa Indonesia pada Februari 2020 mengalami penurunan. Cadangan devisa pada akhir Februari 2020 sebesar USD130,4 miliar, lebih rendah dibanding Januari 2020 (USD131,7 miliar).
Meskipun demikian, posisi cadangan devisa Indonesia saat ini masih dalam tren meningkat sejak September 2018 (USD114,8 miliar).
Cadangan devisa Februari dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Per Desember 2019, utang luar negeri (ULN) Indonesia tercatat sebesar USD404,2 miliar, meningkat USD2,46 miliar dibanding bulan sebelumnya. Dari kenaikan ini, ULN Pemerintah berkontribusi sebesar 51%.
Risiko penurunan cadangan devisa juga meningkat. Ini disebabkan oleh potensi penurunan kinerja ekspor seiring pelemahan harga komoditas, menurunnya aktivitas sektor pariwisata dari dan sektor-sektor turunannya (perhotelan, transportasi, makanan dan minuman, ritel, dsb) serta meningkatnya volatilitas di pasar keuangan.
Kebijakan bunga rendah The Fed dan inflasi Indonesia yang tetap terjaga diharapkan membuat aset-aset keuangan Indonesia masih tetap menarik investor asing. Sementara itu, investasi asing diharapkan dapat berangsur pulih, seiring dengan inisiatif Omnibus Law pemerintah.
Daily Economic And Market Review
Office of Chief Economist PT Bank Mandiri
























