ASPEK.ID – Produksi gas alam cair (LNG) Qatar terganggu. Perusahaan energi milik negara, QatarEnergy, menghentikan sementara operasionalnya setelah dua fasilitas utama di Ras Laffan dan Mesaieed dilaporkan menjadi sasaran serangan militer.
Langkah penghentian ini disebut sebagai upaya darurat guna memastikan keselamatan pekerja sekaligus memberi ruang bagi proses evaluasi kerusakan infrastruktur.
Dalam pernyataan resmi yang dilaporkan The New York Times, Senin (2/3), perusahaan menyatakan proses penilaian dampak masih berlangsung. Hingga kini, manajemen belum merinci tingkat kerusakan maupun estimasi waktu pemulihan operasional.
Ras Laffan selama ini dikenal sebagai pusat pengolahan dan ekspor LNG terbesar di Qatar. Sementara Mesaieed merupakan kawasan industri strategis yang menampung berbagai instalasi energi dan petrokimia penting bagi rantai pasok nasional.
Gangguan di dua titik vital tersebut memicu kekhawatiran pasar, terutama di tengah meningkatnya tensi geopolitik kawasan Teluk. Qatar sendiri merupakan salah satu eksportir LNG terbesar dunia, sejajar dengan Amerika Serikat dan Australia. Pasokan negara itu menjadi tulang punggung kebutuhan energi sejumlah negara di Asia dan Eropa.
Analis energi menilai, bila penghentian berlangsung lama, harga gas global berpotensi terdongkrak. Pergerakan harga sangat bergantung pada lamanya gangguan produksi serta dinamika keamanan regional dalam beberapa hari ke depan.
Sejauh ini, pemerintah Qatar belum mengumumkan kebijakan tambahan terkait pengamanan objek vital energi. Namun otoritas menegaskan komitmennya menjaga keandalan pasokan bagi para mitra dagang di tengah situasi yang berkembang cepat. []























