ASPEK.ID, JAKARTA – Jokowi merasa kesal kepada para menteri kabinet kerja. Pasalnya, perusahaan Amerika yang keluar dari China karena dampak perang dagang As-China memilih berinvestasi di Vietnam bukan di RI. dalam rapat kabinet terbatas Senin lalu, Jokowi menyatakan dari investor-investor yang kita temui, dan catatan yang disampaikan Bank Dunia kepada kita, dua bulan yang lalu ada 33 perusahaan AS di Tiongkok keluar, 23 memilih Vietnam, 10 ke Malaysia, Thailand, Kamboja dan tidak ada yang berinvestasi di RI.
Berikut ini alasan investor memilih Vietnam karena pertumbuhan Foreign Direct Investment (FDI) Vietnam mencatatkan mencapai 74,16% sejak 2014-2018. Mengalahkan Indonesia dengan pertumbuhan 16,79%. Pada 2014-2018, kontribusi FDI ke Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tercatat rata-rata di angka 3,98%. Sedangkan Vietnam di angka 5,94%.
Indonesia dan Vietnam memiliki investor asing strategis yang sama yaitu China, Jepang, Hong Kong, serta Singapura. Dikutip dari cnbcindonesia, dalam 5 tahun terakhir, Vietnam mencatat pertumbuhan rata-rata 6,56% sedangkan Indonesia 5,04%. Indonesia dan Vietnam merupakan negara yang ekonominya ditopang oleh konsumsi domestik. Konsumsi domestik menopang lebih dari 60% PDB untuk kedua negara.
Performa ekspor Indonesia pada 2017 yakni US$ 167,7 miliar. Pada tahun yang sama Vietnam melakukan ekspor di lebih dari US$ 200 miliar. Vietnam menawarkan ongkos investasi yang lebih murah daripada Indonesia. Berdasarkan laporan Foreign Investment Agency (FIA) dan Ministry of Planning & Investement (MPI) Vietnam 2018, biaya investasi di Vietnam lebih murah dibandingkan Jakarta.
Misal, menyewa Grade A Office butuh US$ 17/m2/bulan. Sedangkan untuk menyewa tempat yang sama di Jakarta butuh US$ 50/m2/bulan. Biaya tenaga kerja di Vietnam lebih murah. Upah pekerja untuk sektor manufaktur di Vietnam rata-rata adalah US$ 3.673/tahun. Sedangkan di RI mencapai US$ 5.421/tahun.
Di level kerah biru, untuk tenaga kerja tingkat menengah-tinggi pun Vietnam lebih kompetitif soal upah. Gaji insinyur di Vietnam per tahun adalah US$ 7.315 sedangkan di Indonesia mencapai US$ 8.066. Untuk upah level manager Vietnam juga lebih murah. Rata-rata per tahun seorang manajer di sektor manufaktur di Vietnam digaji US$ 15.418. Indonesia? US$ 16.889/tahun.
Vietnam memberikan beban pajak yang relatif murah dibandingkan Indonesia. Untuk pajak korporasi (CIT) atau Pajak Penghasilan (PPh) Badan, Indonesia mematok flat di angka 25% sedangkan di Vietnam hanya 20% kecuali untuk sektor migas. Untuk Value Added Tax (VAT) alias Pajak Pertambahan Nilai (PPN) keduanya mematok angka yang sama yaitu 10%. Namun Vietnam juga memberikan berbagai macam insentif pajak seperti pembebasan atau pengurangan pajak penyewaan dan penggunaan lahan.
Dari lokasi geografisnya, Vietnam di tengah Asia Tenggara dan di bagian utara berbatasan langsung dengan China. Hal ini tentu menguntungkan Vietnam karena lebih dapat terintegrasi ke rantai pasok dari China yang notabene sebagai investor strategis bagi Vietnam dan Indonesia.
Vietnam bukan merupakan negara kepulauan yang terfragmentasi seperti di Indonesia, sehingga dengan perbaikan di sektor infrastrukturnya menjadi daya tarik bagi asing.
























