Spekulasi sosok bakal cawapres pendamping Prabowo Subianto terus berkembang seiring putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memberi peluang bagi kepala daerah yang berusia kurang dari 40 tahun. Namun, menteri pertahanan itu dinilai butuh figur yang punya elektabilitas tinggi sekaligus ahli ekonomi sebagai pelengkap untuk bertarung pada Pilpres 2024.
Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli mengatakan, popularitas dan elektabilitas menjadi poin penting yang harus dimiliki cawapres. Berdasarkan hasil sejumlah survei, Erick Thohir menjadi figur cawapres dengan popularitas maupun elektabilitas tertinggi. Selain popularitas dan elektabilitas, Romli menyebut kecocokan juga menjadi hal yang krusial.
Dalam sejumlah simulasi pasangan yang dibuat berbagai lembaga survei, kata Romli, Prabowo dan Erick selalu menempati posisi teratas saat berpasangan. “Atas dasar itu, Erick Thohir memiliki peluang tinggi untuk disandingkan dengan Prabowo Subianto dibandingkan dengan kandidat lain,” ujar Romli, Selasa (17/10/2023).
Romli mengatakan, sejatinya Prabowo masih memiliki opsi lain dengan menggandeng Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres. Terbukanya peluang itu setelah MK membuka jalan bagi Gibran untuk melenggang ke kontestasi Pilpres 2024. Namun, keputusan ini tentu bergantung pada kemauan Gibran untuk maju atau tidak dalam Pilpres 2024. Di sisi lain, pemilihan Gibran yang merupakan kader PDIP sebagai cawapresnya Prabowo memiliki risiko besar dalam dunia perpolitikan Indonesia.
“Yang jelas, bisa terjadi perang terbuka atau konfrontasi antara Jokowi dengan Megawati. Ini karena Jokowi dan Gibran yang notabene senagai kader atau petugas partai, hengkang dan menjadi rival capres dari PDIP,” kata Romli dikutip dari republika.
Figur cawapres memang mempunyai peran besar dalam Pilpres 2024. Sosok cawapres tak hanya diharapkan mendongkrak elektabilitas capres, tapi juga menutup kekurangan capres dalam sejumlah isu, termasuk terkait ekonomi. “Pak Erick Thohir memiliki semua syarat untuk menjadi cawapres. Rekam jejak beliau sangat mendukung. Saya kira beliau bisa menjadi cawapres yang potensial, melengkapi semua kelebihan capres,” ujar Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah Redjalam.
























