Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan tingkat kesejahteraan menyeluruh atau human flourishing tertinggi di dunia berdasarkan riset global yang dikembangkan Harvard University, Baylor University, dan lembaga survei internasional Gallup melalui Global Flourishing Study.
Studi ini melibatkan lebih dari 200.000 responden dari 22 negara dan menilai kesejahteraan manusia tidak semata dari aspek ekonomi.
Peneliti menggunakan enam dimensi utama, yakni kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan fisik dan mental, makna serta tujuan hidup, karakter dan kebajikan, kualitas hubungan sosial, serta stabilitas finansial dan material.
Hasilnya menunjukkan, posisi teratas Indonesia bukan ditopang oleh kekuatan ekonomi, melainkan oleh kualitas relasi sosial dan karakter pro-sosial masyarakatnya.
Riset tersebut menemukan bahwa warga Indonesia memiliki tingkat rasa memiliki, gotong royong, dan solidaritas sosial yang tinggi, yang berperan besar dalam membentuk kesejahteraan kolektif.
Di banyak negara maju, keamanan finansial memang lebih mapan, tetapi sering kali disertai rendahnya skor pada aspek makna hidup dan hubungan sosial. Indonesia justru memperlihatkan pola sebaliknya. Meski bukan negara dengan tingkat pendapatan tertinggi, kualitas ikatan sosial dan kehidupan komunitas menjadi sumber utama kesejahteraan warganya.
Aspek makna dan tujuan hidup juga menjadi pembeda penting. Responden di Indonesia lebih banyak menilai aktivitas hidup mereka bermakna dan bernilai. Faktor ini dinilai sangat berpengaruh terhadap kepuasan hidup dalam jangka panjang.
Dimensi spiritualitas turut memberi kontribusi signifikan. Dalam studi ini, keterhubungan spiritual dan praktik keagamaan menjadi salah satu indikator kesejahteraan. Indonesia mencatat peran komunitas keagamaan yang kuat dalam membangun dukungan sosial sekaligus ketahanan psikologis.
Selain itu, skor Indonesia juga tinggi pada dimensi karakter dan kebajikan, seperti rasa syukur, harapan, kemampuan memaafkan, serta kecenderungan membantu sesama.
Karakter-karakter tersebut terbukti berkontribusi terhadap kesehatan mental dan stabilitas emosi.
Temuan lain menunjukkan bahwa kesejahteraan cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Di Indonesia, jaringan sosial lintas generasi relatif kuat, sehingga dukungan emosional dapat terjaga sepanjang siklus kehidupan.
Sebaliknya, negara dengan ekonomi maju seperti Jepang justru berada di peringkat bawah. Lemahnya hubungan sosial dan tingginya tingkat kesepian menjadi faktor utama, meski negara tersebut unggul dalam harapan hidup dan pendapatan.
Melalui riset ini, Global Flourishing Study menegaskan bahwa kesejahteraan manusia adalah kondisi ketika berbagai aspek kehidupan berjalan baik secara bersamaan, bukan sekadar soal kesehatan atau kemakmuran materi.
























