ASPEK.ID, JAKARTA – Korea Selatan resmi mengalami resesi, pertama kalinya sejak 2003 akibat pandemi Covid-19 yang menghambat aktivitas ekonomi dan menekan permintaan global.
Bank Sentral Korea Selatan menyebutkan, Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami penurunan sebesar 3,3 persen yang disesuaikan secara musiman pada kuartal April hingga Juni, setelah menyusut 1,3 persen pada kuartal pertama.
Realisasi ini jauh lebih buruk dibandingkan proyeksi dalam jajak pendapat Reuters, yaitu 2,3 persen. Kinerja ekspor barang dan jasa dari ekonomi yang bergantung pada perdagangan ini anjlok 16,6 persen, menjadi angka terburuk sejak kuartal terakhir 1963.
Ini hampir 40 persen dari nominal Produk Domestik Bruto (PDB) negara pada tahun lalu. Sementara itu, konsumsi swasta yang menghasilkan hampir setengah dari PDB Korea selatan naik 1,4 persen secara kuartalan, tumbuh dibandingkan penurunan 6,5 persen pada kuartal I.
Dari tahun sebelumnya, ekonomi terbesar keempat di Asia ini sebagaimana dilansir dari laman Reuters via Republika, menyusut sebesar 2,9 persen pada periode April sampai Juni.
Realisasi ini kontras dengan ekspansi 1,4 persen yang terlihat pada tiga bulan sebelumnya dan lebih curam dari penurunan 2,0 persen yang diprediksi dalam jajak pendapat Reuters.
Meski mengalami kontraksi dalam, para ekonom melihat adanya tanda-tanda pemulihan pada ekonomi Korea Selatan pada kuartal III. Ekspor yang kontraksi pada kuartal kedua akan menjadi titik terendah, sebelum membaik pada kuartal berikutnya.
Resesi ini terjadi ketika Presiden Korea Selatan Moon Jae In berencana menaikkan pajak properti dan penjualan untuk menjinakkan harga rumah yang melonjak, terutama di Seoul.
Kebijakan semacam ini memberikan sedikit ruang bagi Bank Sentral untuk melonggarkan kebijakan lebih lanjut. Sebab, risiko suku bunga yang lebih rendah memberikan terlalu banyak likuiditas di pasar perumahan.
























