ASPEK.ID, JAKARTA – Korban gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) terus diperbarui. Basarnas mencatat sebanyak 70 orang meninggal dunia dan 132 lainnya mengalami luka-luka.
Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Bramantyo menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers, Selasa (18/8). Data itu berdasarkan laporan tim SAR hingga Senin (17/8) pukul 23.30 WIB.
“Total korban adalah 202 orang, kemudian meninggal dunia 70 orang dan luka-luka 132 orang. Kemudian, luka berat 40, luka ringan 92,” ujar Bramantyo, Selasa (18/8/2026).
Bramantyo mengatakan operasi SAR di lapangan kini lebih difokuskan pada kegiatan penyisiran, pencarian, serta membantu proses pemulihan yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Menurutnya, hingga hari ketiga setelah gempa, tim SAR tidak lagi menerima laporan adanya warga yang masih dinyatakan hilang.
“Sampai dengan hari ketiga kemarin relatif operasi yang kita laksanakan hanya tinggal penyisiran karena berdasarkan laporan atau masukan dan data dari para korban, tidak ada lagi saudara-saudara mereka, tetangga, rekan yang tercatat masih dalam pencarian,” jelasnya.
BNPB Catat 1.182 Korban Luka
Dalam kesempatan yang sama, Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan memaparkan data penanganan bencana yang dihimpun BNPB.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, BNPB mencatat terdapat 1.182 korban luka yang telah mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.
Angka tersebut berbeda dengan data Basarnas. Berton menjelaskan, data Basarnas merupakan jumlah korban yang ditemukan, sedangkan data BNPB berasal dari jumlah korban yang mendapat pelayanan medis.
Untuk korban meninggal, jumlah terbanyak berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 27 orang dan Manggarai Timur 25 orang.
Selanjutnya, korban meninggal tercatat di Nagekeo sebanyak 8 orang, Sikka 4 orang, Ngada 2 orang, Manggarai Barat 2 orang, serta Ende 2 orang.
40.040 Warga Mengungsi
BNPB juga mencatat sekitar 40.040 warga mengungsi akibat gempa tersebut. Berton menegaskan, angka pengungsi itu tidak serta-merta menunjukkan jumlah rumah yang rusak.
“Perlu kita hati-hati untuk menerjemahkannya, namun ini karena banyaknya dampak psikologis yang dirasakan oleh warga,” kata Berton.
Rinciannya, jumlah pengungsi di Manggarai Timur mencapai sekitar 15.465 jiwa, Manggarai 6.847 jiwa, Nagekeo 6.221 jiwa, Sikka 5.681 jiwa, Ende 3.666 jiwa, Ngada 1.920 jiwa, dan Manggarai Barat 600 jiwa.
Gempa M 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8). Pascagempa, Pemerintah Provinsi NTT menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026. []















