Oleh: Yuswardi A. Suud
(Wartawan Ekonomi Politik, mantan Pecinta PSSI)
Sudah belasan tahun saya memilih tak menonton setiap tim nasional (timnas) sepakbola bertanding. Bukan karena saya tak suka sepakbola, melainkan lantaran tak siap terus-menerus kecewa ketika timnas kalah. Rasanya kok menyakitkan sekali. Padahal, dulunya saya adalah pecinta sejatinya.
Ibarat orang pacaran, saya patah hati dengan prestasi buruk PSSI dan memilih menjauh. Namun, sesekali saya masih suka stalking, mengintip hasil akhirnya saja di kanal-kanal YouTube seusai pertandingan. Berharap menemukan kejutan di sana. Namun, lagi-lagi lebih banyak kecewa daripada bahagianya.
Di tengah kekecewaan tak berkesudahan itu, saya tersentak ketika mendapat kabar Menteri BUMN Erick Thohir, yang mantan Presiden Inter Milan itu, ternyata ikut meramaikan bursa calon ketua umum PSSI periode 2023-2027.
Masuknya Erick dalam bursa calon ketua PSSI memberi secercah harapan baru bagi saya untuk bisa rujuk kembali setelah menceraikannya belasan tahun lalu.
Hingga masa pendaftaran ditutup, ada lima nama muncul: La Nyalla Matalitti, Erick Thohir, Arif Putra Wicaksono, Doni Setiabudi, dan Fary Djemy Francis. Tanpa mengecilkan tiga nama lain, sejauh ini, dua nama yang dijagokan adalah La Nyalla dan Erick Thohir.
Sekarang, mari melihat sepak terjang keduanya di ranah sepakbola. Ketika mendengar nama La Nyalla, yang muncul di ingatan saya adalah tentang hukuman dari FIFA pada 2015, dualisme liga, juga dugaan korupsi yang berujung penangkapannya meski kemudian dibebaskan pengadilan. Eits, masih ada lagi. Bukankah La Nyalla juga mengaku sebagai pelaku pelaku penyebar fitnah Presiden Joko Widodo adalah PKI?
Kita tahu, La Nyalla adalah orang lama di PSSI. Dia mulai menjabat sebagai Komite Eksekutif PSSI (2011-2012), Wakil Ketua Umum PSSI (2013-2015), Ketua Badan Tim Nasional Sepak Bola (2013-2015), dan Ketua Umum PSSI (2015-2016).
Celakanya, di masa La Nyalla menjadi Ketum PSSI, sepakbola kita hancur-hancuran. Mulai dari dualisme liga, konflik dengan Menpora, hingga sanksi dari FIFA yang melarang Timnas Indonesia ikut ajang sepakbola internasional, termasuk larangan mengikuti Kualifikasi Piala Dunia 2018 sekaligus kualifikasi Piala Asia 2019.
Tak hanya itu. Hukuman FIFA itu berlanjut dengan saksi AFC yang melarang Timnas U-19 dan Timnas U-16 berpartisipasi pada Kualifikasi Piala AFC U-19 di Bahrain dan Piala AFC U-16 di India.
Setelah itu, PSSI secara resmi membubarkan Timnas Indonesia U-16 dan U-19. Sebelumnya, timnas junior juga tak bisa bermain di Piala AFF.
Namun, entah lupa dengan catatan buruk itu atau bagaimana, La Nyalla pede saja kembali berambisi memburu jabatan Ketua Umum PSSI. Katanya, dia mau membayar utang di PSSI.
“Saya terpanggil, karena sudah waktunya, kami melihat, bahwa sudah waktunya saya membayar utang saya, yang dulu saya diberi amanah oleh anggota PSSI, para voters. Karena itulah, saya sekarang mencalonkan diri menjadi ketua PSSI (lagi),” kata La Nyalla saat mendaftarkan diri beberapa hari lalu.
Bagaimana dengan Erick Thohir? Kepada wartawan, Erick mengatakan dia ingin membersihkan sepakbola Indonesia dari tangan-tangan kotor.
“Butuh nyali bersihkan PSSI dari tangan-tangan kotor. Insyaallah sepak bola Indonesia bersih dan berprestasi,” kata Erick saat mendaftar.
Nyali. Saya sepakat. Itulah kata kuncinya. Sudah terlalu lama PSSI bermasalah. Mulai dari pengelolaan manajemen, pemain, pelatih, karut-marut suporter, pembinaan yang rapuh, dualisme kepemimpinan, pat gulipat dalam posisi manajer klub maupun federasi, hingga rapuhnya mental pemain maupun pengurus federasi.
Kita akui, upaya perbaikan bukannya tak ada. Namun, seringkali upaya itu terhenti di tengah jalan, sementara akar masalahnya tak tercabut.
Erick Thohir, meski tak pernah memimpin PSSI, bukan nama baru di dunia sepakbola. Dengan pengalamannya malang melintang di sepakbola dunia, termasuk menyelamatkan raksasa sepakbola Eropa Inter Milan dari keterpurukan, tak berlebihan jika pecinta sepakbola Indonesia menaruh harapan kepadanya.
Dari sisi kepemimpinan, Erick Thohir dikenal mengedepankan transparansi, kompetensi, dan tak kenal kompromi dengan korupsi. Itu terbukti ketika Erick menyelamatkan sejumlah klub dalam karier profesionalnya. Di antaranya: membawa klub basket Satria Muda menjadi juara dari posisi juru kunci kobatama, menjadi juru selamat Inter Milan, hingga membawa Indonesia bertengger di posisi keempat pada Asian Games 2018.
Lantas, bagaimana peluang Erick berhadapan dengan La Nyalla? Di atas kertas, Erick tentu unggul dalam hal rekam jejak dibanding La Nyalla. Tapi jangan lupa, sebagai orang lama di PSSI, La Nyalla tentu punya orang-orangnya di sana yang siap dikendalikan. Tinggal pencet remote, mesin “La Nyalla men” siap digerakkan untuk menciutkan “Nyali Erick”.
Sebagai orang baru di PSSI, Erick tak pernah terlibat konflik dengan pemerintah atau FIFA. Erick juga telah selesai dengan dirinya sendiri dalam hal finansial. Soal pengorbanan untuk negara, Erick telah membuktikannya dengan rela meninggalkan Inter Milan saat diminta Presiden Jokowi menjadi Ketua Panitia Asian Games 2018 dengan torehan hasil gemilang.
Dengan sejumlah pencapaian itu, seharusnya, tak ada alasan Erick tak terpilih memimpin PSSI.
Lantaran tak punya hak suara untuk memilih Erick, Saya hanya bisa berpesan kepada mereka yang punya hak suara, agar tetap menjaga kewarasan dalam memilih ketua baru PSSI bulan Februari nanti dengan memilih orang yang betul-betul telah terbukti punya kompetensi dan bisa dipercaya. Bukan malah memilih orang yang pernah memfitnah dengan kejam seorang presiden negara ini.
Siapa tahu, setelah Erick terpilih sebagai ketua, cinta lama saya kepada PSSI bisa bersemi kembali.[]
























