ASPEK.ID, JAKARTA – Ketua Umum Zulkifli Hasan mengungkap alasan Partai Amanat Nasional tetap mendukung Prabowo Subianto dalam tiga pemilihan presiden terakhir. Menurut pria yang akrab disapa Zulhas itu, PAN memilih tetap konsisten bersama Prabowo meski harus menghadapi berbagai risiko politik.
Zulhas mengatakan dukungan PAN kepada Prabowo sejak Pilpres 2014 membuat partainya mengalami banyak tekanan. Ia menyebut sejumlah kepala daerah dari PAN harus berhadapan dengan proses hukum, bahkan ada yang memilih pindah partai demi mempertahankan karier politik.
“Kenapa PAN tiga kali dukung Pak Prabowo? Kalah. Bupati-bupati kami, gubernur kami masuk penjara. Kalau enggak masuk penjara pindah [partai]. Partai kami dari [peringkat] nomor 5 turun ke nomor 7, tapi kami konsisten,” kata Zulhas, Selasa (12/5).
Meski dua kali kalah pada Pilpres 2014 dan 2019, Zulhas menegaskan PAN tidak ingin menjadi partai yang berubah sikap hanya demi berada di lingkar kekuasaan. Menurutnya, loyalitas dan konsistensi merupakan modal utama PAN di mata publik.
“Karena modal Partai Amanat Nasional adalah kepercayaan dan loyalitas. Kita tidak bisa ngomong A pekerjaan B tidak bisa. Enggak punya wajah kami kalau kita melakukan itu. Iya iya tidak tidak. Kiri-kiri, kanan-kanan enggak boleh,” ujarnya.
Ia menilai sikap konsisten itu akhirnya membuahkan hasil setelah Prabowo memenangkan Pilpres 2024 dan menjadi Presiden RI.
“Perjuangan kami dengan Gerindra jatuh bangun luar biasa,” tutur Zulhas.
Selain menyinggung loyalitas politik, Zulhas juga mengaku banyak belajar dari Prabowo selama lebih dari satu dekade berkoalisi. Salah satunya terkait karakter pemimpin yang dibutuhkan Indonesia.
Menurut Zulhas, Prabowo pernah menjelaskan soal tipe pemimpin, mulai dari “good leader”, “great leader”, hingga “brilliant leader”. Ia mengatakan tipe pemimpin terbaik adalah sosok yang mampu memilih orang-orang terbaik untuk bekerja bersama.
“Tapi yang terbaik, yang terbaik adalah ‘brilliant leader’. Apa itu? Pemimpin yang bisa milih orang. Pemimpin yang bisa memilih SDM pengurus-pengurus yang tangguh,” kata dia.
Zulhas menyebut kemampuan memilih sumber daya manusia yang tepat akan menentukan keberhasilan kepemimpinan, termasuk dalam strategi dan dukungan logistik.
“Kalau kita mampu memilih orang-orang yang hebat maka logistik akan datang. Siasat dan strategi akan datang. Kalau kita memilih orang yang tidak tepat, logistik lari, siasat lari. Tapi kalau kita memilih orang-orang yang tepat, orang-orang yang bagus, orang-orang yang hebat, logistik, siasat, strategi dengan sendirinya akan datang,” tuturnya. []























