ASPEK.ID, JAKARTA – Perusahaan otomotif asal Jerman, BMW dilaporkan akan mengurangi sekitar 5.000 hingga 6.000 pekerjanya pada 2022 mendatang.
Sementara itu, dalam laporan keuangan triwulan pertama 2020, Ketua Dewan Manajemen BMW AG Oliver Zipse mengatakan bahwa BMW Group siap untuk bereaksi cepat dan tegas setiap saat terhadap perkembangan baru selama pandemi corona dengan mengidentifikasi secara sistematis berbagai skenario potensial.
Pendekatan ini semakin penting mengingat BMW Group mengharapkan konsekuensi dari pandemi corona untuk membatasi operasi pabriknya untuk beberapa waktu ke depan.
Juga menjadi jelas bahwa volume pengiriman di pasar-pasar utama tidak akan kembali normal dalam waktu hanya beberapa minggu.
BMW Group sedang mengembangkan strategi untuk berbagai skenario dan siap untuk mengambil langkah-langkah tambahan untuk melindungi posisi keuangannya dan menggunakan kekuatan dasarnya untuk mengendalikan diri melalui fase yang menantang ini.
“Kami menjaga ketat pada tingkat persediaan karena likuiditas memiliki prioritas absolut dalam situasi ini,” katanya, dikutip dari laman Antara, Sabtu (30/5).
Pada triwulan pertama 2020, BMW Group mengirimkan total 477.111 kendaraan BMW, MINI dan merek Rolls-Royce kepada pelanggan di seluruh dunia. Jumlah ini turun 20,6 persen dibanding periode sama 2019.
BMW (singkatan untuk Bayerische Motoren Werke, atau dalam Bahasa Inggris, Bavarian Motor Works), adalah sebuah perusahaan otomotif Jerman yang memproduksi mobil dan sepeda motor.
BMW didirikan pada tahun 1916 oleh Franz Josef Popp. BMW AG adalah perusahaan induk dari merk mobil MINI dan Rolls-Royce, dan, dulunya Rover.
BMW dikenal sebagai salah satu perusahaan mobil mewah dengan performa tinggi, dan juga salah satu perusahaan mobil pertama yang menggunakan teknologi ABS.























