Ketua Umum Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (Korika), Prof. Hammam Riza, menyatakan bahwa AI dapat digambarkan sebagai teknologi nuklir yang memiliki potensi merusak. Namun, pada masa damai, teknologi nuklir dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan.
“AI memiliki potensi untuk digunakan secara negatif, seperti untuk terorisme siber dan kejahatan cyber lainnya, yang perlu dihindari,” kata Hammam Riza pada hari Senin (10/7/2023) di Jakarta.
Hammam menjelaskan bahwa dalam tahun politik, AI dapat digunakan untuk memprediksi hasil pilpres 2024, dengan syarat didukung oleh data yang valid. Misalnya, dengan menggunakan data dari dua pemilu sebelumnya, dapat dianalisis bagaimana perang di media sosial terkait Pemilu 2014 dan Pemilu 2019, siapa calonnya, dan dari partai mana. Dengan mengekstraksi fitur-fitur tersebut, AI dapat memberikan wawasan yang berguna. Namun, perlu diingat bahwa kandidat dalam pemilu 2024 kemungkinan akan berbeda.
“Penggunaan AI untuk Pemilu 2024, teknologi kecerdasan artifisial. (AI) dapat memberikan kontribusi dalam berbagai aspek pemilu, seperti analisis data dan pola perilaku pemilih. Perlu diingat bahwa penggunaan AI dalam pemilu harus memperhatikan prinsip keadilan, transparansi, dan privasi data. Proses pemilihan yang adil dan akuntabel tetap menjadi tanggung jawab pihak penyelenggara pemilu,” ajaknya.
Pakar IT itu mengatakan tanpa disadari, rakyat Indonesia telah menggunakan AI. Namun, AI yang digunakan secara implisit dalam aplikasi yang kita anggap sebagai aplikasi seluler yang sering kita gunakan


















