ASPEK.ID, JAKARTA – PT Adaro Energy Tbk membukukan pendapatan sebesar 2,53 miliar dolar AS atau sekitar Rp 35,4 triliun (kurs Rp 14.000) sepanjang tahun 2020.
Pendapatan yang dicapai Adaro ini turun 27 persen jika dibandingkan realisasi 2019 sebesar 3,46 miliar dolar AS.
Sementara itu perolehan laba bersih tercatat sebesar 146,93 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,057 triliun, anjlok 63,65 persen dari 2019 sebesar 404,19 juta dolar AS.
Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir menjelaskan bahwa pandemi membuat permintaan batu bara baik di pasar ekspor maupun domestik mengalami penurunan yang tajam.
Adaro adalah perusahaan pertambangan batu bara terpadu yang berbasis di Indonesia. Adaro dan anak perusahaannya bergerak dalam bidang pertambangan batubara, perdagangan batubara, jasa kontraktor penambangan, infrastruktur, logistik batubara dan kegiatan pembangkit tenaga listrik.
Perusahaan dengan kode emiten ADRO ini sahamnya dimiliki oleh Adaro Strategic Investments (43,91%) dan Garibaldi Thohir (6,18%) serta mulai beroperasi secara komersial pada bulan Juli 2005.
“Walaupun harus menghadapi banyak tantangan dari pandemi global sampai cuaca yang tidak mendukung kami tetap mampu memenuhi panduan produksi batubara dan ebitda operasional,” kata dia, Jumat (5/3).
Garibaldi yang juga kakak kandung Menteri BUMN Erick Thohir ini menjelaskan juga bahwa perusahaan mampu mencapai EBITDA operasional sebesar 883 juta dolar AS, melebihi target sebesar 600-800 juta dolar AS.
Disebutkan juga, laba inti Adaro tahun 2020 mencapai 405 juta dolar AS, atau merosot 36 persen secara yoy akibat penurunan profitabilitas.
Laba inti dihitung dengan tidak memasukkan komponen akuntansi non operasional setelah pajak.
“Pandemi Covid-19 memberikan tekanan yang besar terhadap permintaan batubara dan harga batubara global pada 2020 memang mengalami penurunan,” ujarnya sembari menjelaskan kedepan perusahaan akan tetap berupaya menjaga kondisi keuangan dan kinerja operasional perusahaan seiring dengan pemulihan ekonomi.























