ASPEK.ID, JAKARTA – Salah satu gejala penderita Covid-19 adalah penurunan level oksigen di tubuh. Jika tubuh tidak memiliki oksigen yang cukup diakibatkan oleh penyakit seperti Covid-19, maka sel-sel dalam tubuh tidak memiliki cukup bekal untuk melakukan fungsinya secara normal.
“Jika hal ini berlangsung lama, maka sel-sel dalam tubuh akan berhenti bekerja dan menyebabkan komplikasi yang parah,” ungkap Dokter Janet Diaz (9/4/2021) pada siaran podcast episode 33 yang diadakan oleh World Health Organization (WHO)
Dokter M. Irfan, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Utara dikutip dari bisnis, menyatakan batas angka minimal saturasi oksigen bagi orang normal adalah 95 persen.
Jika kadar saturasi oksigen seseorang berada di bawah angka tersebut, maka kemungkinan orang tersebut menderita Covid-19.
Level oksigen seseorang kemungkinan rendah jika terdapat gejala berikut: pendek-pendek dalam bernafas, bernafas lebih cepat dari biasanya, dan merasa tidak enak badan untuk melakukan kesehariannya.
Kadar saturasi oksigen normal bagi pasien Covid-19 adalah di atas 90 persen. Jika di bawahnya, disarankan untuk memulai terapi oksigen meski mereka tidak menunjukkan gejala apapun. Terapi oksigen aman bagi bayi baru lahir, anak-anak, orang dewasa, hingga ibu hamil.
Terapi oksigen diberikan dengan cara menghubungkan tabung oksigen dengan pasien. Sepasang pipa bernama nasal cannula akan dimasukkan ke dalam lubang hidung pasien. Pipa ini berukuran kecil sehingga tidak akan menyakiti pasien.
Terapi ini diharapkan dapat menaikkan saturasi oksigen pasien tanpa gejala hingga berada di atas 90 persen dan pasien dengan gejala hingga berada di atas 95 persen.
Jika saturasi oksigen pasien tetap berada di atas angka tersebut, terapi dapat dihentikan. Agar seseorang dapat mengukur saturasi oksigennya, ia harus menyediakan oximeter terlebih dahulu.






















