ASPEK.ID, JAKATA – Owner Minyak Kutus-kutus Servasius Bambang Pranoto mengungkapkan dirinya memegang teguh strategi yang diciptakan, yakni menciptakan produk yang luar biasa (excellent product), mengelola keuangan, serta pemanfaatan sosial media sebagai sarana pemasaran.
Produsen minyak balur asli Bali mampu mempertahankan bisnisnya pada covid-19. Bahkan membeli kastil di Belanda.
“Minyak Kutus-kutus mampu menyelesaikan semua (tantangan pandemi) ini dengan cukup baik sampai 2020, walaupun produksi kita hanya separuh daripada tahun-tahun sebelumnya. Tapi sekarang modal kita cukup, uang cukup, semuanya cukup, produksi juga cukup. Jadi keadaan pandemi tidak menggoyahkan kita satu sentimeter pun,” ungkap Bambang dalam webinar BCA Mendukung Gernas BBI 2021, Senin, (11/1/2021).
Bagaimana bisa membeli kastil di Belanda? dikutip dari medcom, Bambang menerapkan strategi memanfaatkan pinjaman perbankan untuk membiayai operasional perusahaan, biaya produksi, dan sisanya ditabung.
Ia terus melakukan langkah tersebut hingga tabungannya membesar. Tabungannya pun dijadikan agunan saat perusahaannya memerlukan pinjaman.
“Kita kan biasa nyicil (dengan jumlah pinjaman) besar-besar setiap bulan, nah sekarang kita nyicil kecil. Sisanya masih kita pergunakan untuk hal lain untuk mengembangkan perusahaan. Kita beli kastil di Belanda untuk kantornya Kutus-kutus,” jelasnya.
Bambang mengungkapkan, langkahnya membeli kastil di Belanda agar produknya diakui dan mendunia. Sebab saat masuk ke swalayan Asia, Bambang kecewa karena produk-produk Indonesia kalah saing dengan produk milik Singapura dan Thailand.
“Ini sedikit sok-sokan, tapi menurut saya supaya bangga lokal dan go international. Kenapa saya beli kastil di Eropa? Karena produk Indonesia enggak ada yang bunyi satu pun. Makanya, ini butuh sebuah gerakan yang sifatnya signifikan sehingga masyarakat sana ngeh terhadap produk Kutus-kutus,” tegas Bambang.
Menurutnya beli kastil bukan sok-sokan, tetapi ini untuk brand Minyak Kutus-kutus masuk ke Belanda dengan terhormat. Dengan beli kastil akan memberikan dampak bahwa kita bukan produk ecek-ecek, tapi kita produk yang elegan.
Bambang menekankan bangga terhadap produk-produk lokal tidak harus dilakukan dengan melakukan kampanye secara besar-besaran. Sebab, Indonesia sudah terkenal kekayaan alamnya, sehingga olahan apapun yang dibuat dari Indonesia, akan sendirinya dicap sebagai produk Indonesia.
Asalkan, produk tersebut mempunyai kualitas yang bagus dan bisa bersaing secara global.
“Tapi ini masalahnya karena strategi marketing perusahaan-perusahaan asing yang terus mendegradasi produksi lokal. Untuk itu, kita harus fight, bahwa kita setara dengan mereka,” tutup Bambang.





















