ASPEK, ID, JAKARTA – Politisi NasDem Saan menilai wacana reshuffle hanya akan menambah permasalahan yang sedang dihadapi baik dari sisi ekonomi maupun kesehatan terkait dampak dari pandemi Covid 19.
“Jangan-jangan ketika reshuffle sebagai sebuah wacana digulirkan, ini malah menimbulkan kegaduhan baru yang bukan menyelesaikan masalah justru memperbesar dan memperparah masalah yang ada,” ujar Saan di Jakarta, Kamis (23/7/2020).
Oleh karenanya, Sekretaris Fraksi Partai NasDem ini justru meminta para Menteri untuk fokus bekerja agar Indonesia bisa bertahan dan keluar dari prediksi krisis yang akan dihadapi karena kasus mewabahnya virus corona.
“Mungkin pilihan reshuffle sebagai sebuah bentuk pertanggungjawaban para menteri terhadap kinerja di tengah krisis ini mungkin saja bisa dilakukan tapi ketika kondisi sudah mulai membaik,” ujar Saan.
Wacana perombakan kabinet sendiri sempat menguat setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan kekecewaanya terhadap kinerja para anak buahnya karena penanganan pandemi Covid 19. Jokowi bahkan mengeluarkan ancaman akan melakukan reshuffle kepada menteri yang dianggap kurang mumpuni. Hanya, video ‘kemarahan’ Jokowi itu baru dibuka ke publik pada 28 Juni lalu.
“Sekali lagi, langkah-langkah extraordinary ini betul-betul harus kita lakukan. Dan saya membuka yang namanya entah langkah politik, entah langkah-langkah ke pemerintahan, akan saya buka. Langkah apa pun yang extraordinary akan saya lakukan. Untuk 267 juta rakyat kita, untuk negara,” kata Jokowi seperti arahannya kepada Kabinet Indonesia Maju dalam rapat terbatas pada 18 Juni 2020, seperti yang ditayangkan YouTube Setpres, Minggu (28/6/2020).
“Bisa saja membubarkan lembaga, bisa saja reshuffle. Udah kepikiran ke mana-mana saya. Entah buat perppu yang lebih penting lagi kalau memang diperlukan. Karena memang suasana ini harus ada, suasana ini tidak…, Bapak-Ibu tidak merasakan itu sudah,” kata Jokowi.
Namun isu perombakan kabinet yang sempat ‘memanas’ tersebut mereda setelah Mensesneg Pratikno mengeluarkan pernyataan isu reshuffle tidak lagi relevan.
“Dalam waktu yang relatif singkat, kita melihat progres yang luar biasa di kementerian/lembaga, antara lain bisa dilihat dari serapan anggaran yang meningkat, program-program yang sudah mulai berjalan. Artinya, teguran keras tersebut punya arti yang signifikan,” kata Pratikno saat menjawab pertanyaan soal reshuffle, yang disiarkan di saluran YouTube Sekretariat Presiden, Senin (6/7).
“Jadi kalau progresnya bagus, ngapain di-reshuffle? Intinya begitu. Tentunya dengan progres yang bagus ini isu reshuffle tidak relevan sejauh bagus terus. Sekarang sudah bagus dan semoga bagus terus. Tentu saja kalau bagus terus ya nggak ada isu, nggak relevan lagi reshuffle. Artinya, teguran keras tersebut punya arti yang signifikan. Teguran keras tersebut dilaksanakan secara cepat oleh kabinet,” kata Pratikno.
























