ASPEK.ID, JAKARTA – Penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) BPH Migas bakal diberikan senjata api dalam rangka pengawasan bahan bakar minyak (BBM).
Pemberian senjata api ini untuk perlindungan diri dan juga agar para PPNS semakin percaya diri, kuat mental, dan berani memberantas mafia migas.
Untuk itu, BPH Migas memandang perlunya kerja sama dengan Pindad dalam pengadaan senjata api tersebut. BPH Migas melakukan pengawasan distribusi BBM, saat ini memiliki 30 PPNS.
“Kami ingin penyidik kami yang berjumlah 30 orang ini yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan di Lemdiklat Polri Diklat Reserse Megamendung dan telah dilantik oleh Kemenkumham dibekali senjata yang sesuai agar semakin berani dalam memberantas para mafia BBM,” kata Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa dalam siaran pers BPH Migas, Minggu (4/10/2020).
Fanshurullah menambahkan, saat ini pelanggaran dalam kegiatan hilir migas semakin meningkat baik BBM subsidi maupun nonsubsidi.
Di antaranya berupa pengoplosan BBM, penyalahgunaan atau penyelewengan BBM subsidi, modifikasi tangki BBM, dan usaha ilegal, izin palsu, atau izin kadaluarsa namun masih melakukan kegiatan usaha.
Berdasarkan data dari BPH Migas, sejak Januari hingga Agustus tahun ini terdapat 281 kasus di sektor hilir migas dengan barang bukti sebanyak 1.341,66 kiloliter (KL).
Ifan menuturkan, tim PPNS BPH Migas saat hendak menangkap pelaku penyimpangan BBM di Medan, namun terpaksa berbalik arah karena pelaku membawa senjata api.
Tim terpadu melibatkan TNI AD dan TNI AU serta Polri, ketika tiba di Sumsel harus berhadapan dengan para mafia migas yang membawa senjata yang lebih canggih.
“Kami ingin PPNS BPH Migas selain dilengkapi dengan senjata, juga nanti dilatih oleh Kopassus, supaya ke depan menjadi Kopassus di bidang migas,” ungkap Ifan.
Selain itu, Ifan juga berharap Pindad dapat memproduksi sarana dan prasarna pendukung untuk kegiatan usaha di sektor hilir migas, seperti pembuatan ISO Tank untuk Liquefied Natural Gas (LNG), peralatan pipanisasi gas, serta sarana dan prasarana untuk Pertashop seperti shelter, dispenser, dan tangki penyimpanan BBM yang saat ini sudah berjalan
“Ke depan kami ingin prioritas penggunaan produksi dalam negeri dalam kegiatan sektor hilir migas yang saat ini masih banyak dimpor. Kami akan gantikan dengan produksi dalam negeri,” kata Ifan.






















