ASPEK.ID, JAKARTA – Pengamat Ekonomi DR Abdul Muthalib Hamid mengatakan saat ini Indonesia lebih siap menghadapi resesi jika dibandingkan dengan krisis ekonomi pada 1998.
Krisis 1998 yang dipicu oleh krisis mata uang negara berkembang memang sedikit mirip dengan kondisi saat ini yang mata uang negara berkembang termasuk Indonesia terus mengalami pelemahan.
Hal itu dikemukakan Muthalib di Makassar, merefleksi setahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo di tengah gonjang-ganjing ekonomi sebagai dampak Covid-19.
“Saya melihat Indonesia saat ini lebih siap menghadap krisis ekonomi dibanding tahun 1998. Sedang pada 2018 krisis dimulai dari Turki, Argentina dan merembet ke negara berkembang lainnya,” katanya dilansir dari laman Antara, Selasa (20/10).
Selain nilai mata uang yang terus melemah serta pertumbuhan ekonomi yang terus mengalami kemunduran dua kuartal berturut turut, hendaknya mewaspadai utang luar negeri yang bisa saja memicu terjadinya resesi.
Salah satu penyebab munculnya resesi karena utang luar negeri yang sulit dikembalikan atau dibayar atau dengan kata lain, besaran utang luar negeri tidak sebanding kemampuan cadangan likuiditas APBN dan finansial sektor publik untuk membayar utangnya pada saat jatuh tempo.
Jika menilik lebih dalam, cadangan devisa Indonesia di tahun 1998 sekitar 23 miliar dolar AS, sedangkan hingga pada tahun 2020 pada kisaran 120 miliar dolar AS.
Sementara pertumbuhan ekonomi tahun 1997-1998 pada level -13 persen, sedangkan saat ini hingga kuartal II di 2020 ekonomi Indonesia berkontraksi pada -5,32 persen.
“Kalau kita memperhatikan kondisi utang luar negeri Indonesia saat ini di bawah rezim Jokowi, maka nampaknya utang luar negeri Indonesia pada saat ini jauh lebih membengkak dari tahun 1998,” katanya.
Kondisi ini dinilai sangat mengganggu karena berpotensi membahayakan apalagi dalam perbaikan sistem keuangan lndonesia.
Tidak hanya itu, keadaan ini dapat menjadi indikator dalam mengevaluasi potensi resesi ekonomi Indonesia pada kuartal IV di 2020.
“Jika resesi terjadi di Indonesia, maka berbagai lini ekonomi akan terpengaruh dan puncaknya akan menambah angka pengangguran dan kemiskinan,” tandasnya.























