ASPEK.ID, JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan laba bersih secara konsolidasian sebesar Rp 17, 1 triliun sepanjang tahun 2020.
Bank Mandiri merupakan salah satu anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang perbankan.
Keempatnya yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Perseero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan, pertumbuhan laba Mandiri di 2019 terkontraksi sebesar 37,7 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 27,48 triliun.
“Kami optimis kinerja Bank Mandiri akan rebound pada tahun ini,” kata Darmawan dalam paparan kinerja secara virtual, Kamis (28/1/2021).
Penurunan laba Bank Mandiri terjadi akibat masih terkontraksinya kredit saat restrukturisasi kredit masih tetap dijalani. Penyaluran kredit perseroan tercatat masih terkontraksi 1,61 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Bank Mandiri mampu menurunkan cost of fund sebesar 33 basis poin (yoy) menjadi 2,53 persen di Desember 2020 sedangkan biaya operasional hanya tumbuh 1,42 persen, dibandingkan kenaikan biaya operasional periode sebelumnya yang mencapai 6,68 persen.
“Dari sisi laba rugi, pendapatan bunga turun 4,95 persen namun diimbangi penurunan beban bunga sekitar 3 persen. Oleh karena itu, tekanan NII dapat dijaga tidak terlalu dalam,” kata dia.
Darmawan menambahkan, pencapaian laba di 2020 didorong oleh pertumbuhan fee based income yang tumbuh sebesar 4,9% yoy menjadi Rp 28,7 triliun, dengan salah satu penyumbang utama adalah pendapatan dari transaksi online.
“Frekuensi transaksi aplikasi Mandiri Online sepanjang 2020 mencapai lebih dari 600 juta transaksi dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun,” imbuhnya.























