• Latest
  • Trending
Surabaya Siap Berlakukan Jam Malam Hingga 11 Mei

Bila PSBB Diperketat, Ekonomi Hanya Tumbuh 2%

Indonesia Masuk Dewan Perdamaian Gaza, Menlu Sugiono Ungkap Pertimbangannya

Menlu Sugiono Wakili Prabowo Hadiri Sidang Umum PBB di New York Pekan Depan

PSBB Tekan IHSG ke Zona Merah

IHSG Dibuka Menguat ke 6.505, Bursa Asia Kompak Hijau

Wali Kota Madiun Dituntut 7 Tahun 2 Bulan Penjara

Wali Kota Madiun Dituntut 7 Tahun 2 Bulan Penjara

Harga Emas Terancam Turun Lagi Usai The Fed Naikkan Suku Bunga

Harga Emas Antam Melonjak Rp 25.000 di Tengah Tren Pelemahan

Rupiah Menguat 5 Poin ke Rp14.025

Defisit APBN Rp240 Triliun Sampai Agustus 2026

Curi Barang Bukti Emas 1,9 Kg, Pegawai KPK Dipecat

Politikus PAN Bebizie Serahkan Rp 895 Juta ke KPK

Derli dan Sultanul Jadi Andalan Indonesia di Asian Games 2026

Derli dan Sultanul Jadi Andalan Indonesia di Asian Games 2026

Alasan Investor Global Lirik RI

Indonesia Bidik Investasi AI dan Pasar UMKM di Nanning CAEXPO 2026

KPK Beri Sinyal Periksa Konglomerat  Haji Isam

Haji Isam Sepakat Beli 30% Saham BYAN dari Low Tuck Kwong

Pemerintah Kaji Angkat PPPK Damkar hingga Satpol PP Jadi PNS

Pemerintah Kaji Angkat PPPK Damkar hingga Satpol PP Jadi PNS

Waskita Karya: LRT Jakarta Aman Beroperasi

Alasan Helikopter Tak Dikerahkan Cari 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Resmi Dihentikan Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru

  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
Jumat, September 18, 2026
  • Login
Aspek.id
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Aspek.id
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

Bila PSBB Diperketat, Ekonomi Hanya Tumbuh 2%

by Aspek
Juni 21, 2021
in EKONOMI
Surabaya Siap Berlakukan Jam Malam Hingga 11 Mei

Posko sterilisasi di kawasan Frontage Road Ahmad Yani, Surabaya untuk meminimalisir penyebaran Covid-19. [Foto: Istimewa/HO]

ASPEK.ID, JAKRTA – Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyatakan bila pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat, maka akan mengalami pelemahan konsumsi rumah tangga yang tajam.

Imbasnya ekonomi domestik kuartal II-2021 tidak bisa tumbuh dari target yang diinginkan pemerintah.

“Jika pemerintah balik PSBB ketat maka proyeksi di kuartal ke II tahun 2021 maksimal tumbuh 2-4 persen tidak setinggi proyeksi pemerintah yang 8 persen itu,” ungkap Bima Minggu (20/6/2021).

BacaJuga

IHSG Dibuka Menguat ke 6.505, Bursa Asia Kompak Hijau

Harga Emas Antam Melonjak Rp 25.000 di Tengah Tren Pelemahan

Defisit APBN Rp240 Triliun Sampai Agustus 2026

19 Kelompok Perhutanan Sosial di Aceh Dapat Pendampingan dan Akses Pembiayaan

MBG Sudah Habiskan Rp 139,77 Triliun

Harga Emas Terancam Turun Lagi Usai The Fed Naikkan Suku Bunga

Bima memahami, lebaran menjadi momen pemulihan daya beli, tapi karena risiko kesehatan naik maka faktor musiman lebaran jadi tidak banyak membantu. Karenanya pertumbuhan ekonomi domestik periode April – Juni 2021 masih jauh dari harapan.

Kuartal III dengan asumsi kondisi Covid-19 masih sama, maka proyeksi pertumbuhan juga berisiko negatif. Pelaku usaha pun harus mewaspadai kontraksi tajam dari sekarang.

Menurut Bima, kuartal III situasinya akan makin kompleks karena mulai naiknya tekanan dari eksternal yakni normalisasi kebijakan moneter bank sentral AS. Rupiah cenderung melemah. Sementara harga minyak dunia yang naik memicu penyesuaian harga bbm non subsidi dan tarif listrik.

Selain itu kuartal III tidak ada momen kenaikan konsumsi, beda dengan kuartal ke II yang bertepatan dengan lebaran dimana konsumsi biasanya lebih tinggi dari periode lain.

“Masyarakat dan pengusaha harus jaga cashflow dan dana darurat. Optimisme perlu diganti dengan taktik yang realistis,” jelasnya disadur dari merdeka.

Bima melihat sampai akhir tahun ekonomi Indonesia masih minus pertumbuhannya. Bahkan kemungkinan terburuknya bakal terjadi gelombang penutupan usaha.

“Saya proyeksikan akan terdapat gelombang penutupan usaha dan penundaan pembayaran utang perusahaan transportasi yang naik signifikan tahun ini,” ungkapnya.

Komentar
Share14Tweet9SendShareShare3Send
ADVERTISEMENT

Related Posts

Daily Economic Review: Profitabilitas Bank-Bank Besar Dianggap Masih Cukup Baik

Ekonom Ragukan Angka Pertumbuhan Ekonomi Versi Pemerintah

Jakarta-  Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 yang bergerak positif di angka 5,29 persen (yoy) menimbulkan kritik dari para...

Covid-19 Mengganas, India Harus Tekan Mobilitas

RI dan India Diprediksi Topang Pertumbuhan di Asia

Morgan Stanley memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat ke tingkat 2,9 persen pada 2023 dan berisiko lebih rendah dari angka...

BI Berikan Quantitative Easing untuk Pulihkan Ekonomi dari Covid-19

BI Optimis Pertumbuhan Ekonomi 4,9 Persen

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengingatkan kembali Indonesia masih harus waspada di 2023. Saat ini, situasi global masih belum...

Load More

Pasar Saham BUMN

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

© 2025 Aspek.id | PT. Aspek Citra Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In