ASPEK.ID, JAKRTA – Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyatakan bila pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat, maka akan mengalami pelemahan konsumsi rumah tangga yang tajam.
Imbasnya ekonomi domestik kuartal II-2021 tidak bisa tumbuh dari target yang diinginkan pemerintah.
“Jika pemerintah balik PSBB ketat maka proyeksi di kuartal ke II tahun 2021 maksimal tumbuh 2-4 persen tidak setinggi proyeksi pemerintah yang 8 persen itu,” ungkap Bima Minggu (20/6/2021).
Bima memahami, lebaran menjadi momen pemulihan daya beli, tapi karena risiko kesehatan naik maka faktor musiman lebaran jadi tidak banyak membantu. Karenanya pertumbuhan ekonomi domestik periode April – Juni 2021 masih jauh dari harapan.
Kuartal III dengan asumsi kondisi Covid-19 masih sama, maka proyeksi pertumbuhan juga berisiko negatif. Pelaku usaha pun harus mewaspadai kontraksi tajam dari sekarang.
Menurut Bima, kuartal III situasinya akan makin kompleks karena mulai naiknya tekanan dari eksternal yakni normalisasi kebijakan moneter bank sentral AS. Rupiah cenderung melemah. Sementara harga minyak dunia yang naik memicu penyesuaian harga bbm non subsidi dan tarif listrik.
Selain itu kuartal III tidak ada momen kenaikan konsumsi, beda dengan kuartal ke II yang bertepatan dengan lebaran dimana konsumsi biasanya lebih tinggi dari periode lain.
“Masyarakat dan pengusaha harus jaga cashflow dan dana darurat. Optimisme perlu diganti dengan taktik yang realistis,” jelasnya disadur dari merdeka.
Bima melihat sampai akhir tahun ekonomi Indonesia masih minus pertumbuhannya. Bahkan kemungkinan terburuknya bakal terjadi gelombang penutupan usaha.
“Saya proyeksikan akan terdapat gelombang penutupan usaha dan penundaan pembayaran utang perusahaan transportasi yang naik signifikan tahun ini,” ungkapnya.
























