ASPEK.ID, JAKARTA – Indonesia memiliki sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang industri pertahanan.
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini sedang merancang pembentukan perusahaan induk atau Holding BUMN Industri Pertahanan dengan nama Defend ID yang ditargetkan rampung dalam waktu dekat.
Adalah PT Len Industri (Persero) yang sedang melakukan transformasi menjadi induk holding dengan anggotanya PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Pindad (Persero), PT PAL Indonesia (Persero) dan PT Dahana (Persero).
Namun, tak satu pun dari perusahaan pelat merah yang dimiliki oleh Indonesia yang mampu menembus peringkat 100 besar global.
Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose mengatakan, hingga saat ini 10 besar perusahaan pertahanan global masih didominasi oleh China.
Hal ini tentunya menjadi tugas dari Pindad yang merupakan salah satu perusahaan pertahanan milik BUMN agar bisa masuk jajaran 100 besar dunia.
PT Pindad (Persero) sendiri adalah perusahaan industri dan manufaktur yang bergerak dalam pembuatan produk militer dan komersial di Indonesia.
“Kalau kita lihat, bagaimana posisi kita terhadap peringkat 100 besar di industri pertahanan global yang ada, Indonesia belum masuk,” kata Abraham dilansir CNN Indonesia dalam Diskusi Pertahanan yang digelar Universitas Padjadjaran, Jumat (9/7) kemarin.
Menurut Abraham ada beberapa hal yang harus dibenahi demi mencapai tujuan tersebut, salah satunya adalah kemandirian industri pertahanan.
Dia memaparkan kemandirian yang dimaksud berkaitan dengan kemampuan dalam integrasi alat utama sistem persenjataan hingga kebebasan memilih sumber material, sistem teknologi, dan inovasi yang akan dilakukan.
“Kemudian bagaimana kita jangan ketergantungan berbagai ikatan saat kerja sama, baru kita bisa menuju goal kita yaitu kemandirian industri pertahanan,” katanya.
























