ASPEK.ID, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia memasang target agresif untuk meningkatkan nilai total aset kelolaan hingga tiga kali lipat pada 2030. Upaya tersebut akan ditempuh melalui transformasi struktural dan konsolidasi besar-besaran terhadap badan usaha milik negara (BUMN).
Dalam panel diskusi World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief, mengungkapkan bahwa saat ini Danantara mengelola aset senilai sekitar US$ 900 miliar, atau setara Rp 15,29 kuadriliun.
“Dalam lima tahun ke depan, kami harus meningkatkan nilai aset melalui penciptaan nilai dan berbagai inisiatif strategis lainnya, hingga secara bertahap mencapai target melipatgandakan aset menjadi tiga kali lipat pada 2030,” ujar Al-Arief, Rabu (21/1).
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Danantara berencana melakukan konsolidasi terhadap sekitar 1.068 BUMN menjadi hanya sekitar 221 entitas usaha dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun ke depan. Saat ini, perusahaan-perusahaan pelat merah dalam portofolio Danantara masih tersebar dan dikelola melalui kurang lebih 50 holding di berbagai sektor.
“Dalam tiga sampai empat tahun, jumlah BUMN itu akan ditransformasikan dari lebih dari seribu menjadi sekitar dua ratus perusahaan yang dikelola secara profesional, sehingga mampu bersaing dalam jangka panjang,” kata Al-Arief.
Ia menegaskan bahwa langkah konsolidasi ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat tata kelola, serta mendorong daya saing global BUMN Indonesia. Saat ini, dua BUMN yang berada di bawah pengelolaan Danantara, yakni Pertamina dan PLN, telah berhasil masuk dalam daftar Fortune 500.
Danantara berharap, melalui transformasi dan konsolidasi yang tengah berlangsung, semakin banyak BUMN nasional yang mampu menembus jajaran perusahaan global bergengsi tersebut.
Menurut Al-Arief, proses konsolidasi kini telah memasuki tahap fundamental business review, di mana setiap lini usaha dievaluasi secara menyeluruh.
“Ke depan akan ada fase perampingan melalui penggabungan dan konsolidasi, yang pada akhirnya diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar,” jelasnya.
Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani sebelumnya menegaskan bahwa kehadiran Indonesia dalam Annual Meeting WEF 2026 di Davos merupakan bagian dari strategi diplomasi ekonomi pemerintah untuk memperkuat posisi dan daya saing perekonomian nasional di tingkat global.
Partisipasi Indonesia dalam forum internasional yang berlangsung pada 19–22 Januari 2026 tersebut melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Danantara Indonesia, serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. []























