Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengingatkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk menjadikan kualitas gizi sebagai tolak ukur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengingatkan, esensi program MBG bukan sekadar memberikan makanan, tetapi memenuhi gizi penerima manfaatnya.
“Sekali lagi ini namanya Makan Bergizi Gratis, bukan makan enak gratis, bukan makan banyak gratis. Mencukupkan gizinya lah yang menjadi tolok ukurnya. Kami ingin menunya tersaji baik, gizinya terpenuhi, dan perputaran ekonomi lokal juga jalan,” tegas Sudaryono, Senin (27/7/2026).
Sudaryono juga menegaskan, pihaknya tidak segan untuk menindak SPPG atau dapur MBG yang tidak memenuhi standar BGN.
“Kami mencoba untuk bersih-bersih, kami mencoba untuk kemudian yang melanggar kami berikan sanksi,” ujar Sudaryono.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa BGN telah menutup secara permanen 833 SPPG. BGN menutup dapur-dapur MBG tersebut karena masih ditemukan masalah higienitas, sanitasi, hingga keracunan.
“Terkait higienis, sanitasi, keracunan, kemudian kualitas yang tidak baik, tidak memenuhi standar yang kita inginkan. Kemudian IPAL-nya (Instalasi Pengolahan Air Limbah),” ujar Sudaryono.
BGN, kata Sudaryono, telah memberikan tenggat waktu kepada SPPG-SPPG tersebut untuk melakukan perbaikan.
“Kami kasih tenggat waktu untuk diperbaiki tapi tidak diperbaiki, maka kami suspend secara permanen,” ujar Sudaryono.
Meski ratusan dapur dihentikan operasionalnya, BGN memastikan penyaluran MBG kepada para penerima manfaat tetap berjalan. Ia mengatakan, distribusi MBG dari SPPG yang dihentikan akan dialihkan ke dapur-dapur lain di sekitar sekolah yang terdampak.
“Kami memastikan jangan sampai yang tadinya menerima manfaat jadi tidak menerima. Begitu di-suspend, secara otomatis kami akan membagi porsi layanan kepada dapur-dapur lain di sekitar situ,” ujar Sudaryono.
























