ASPEK.ID, BANDUNG – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memperluas area pencarian korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Perluasan dilakukan dengan mengalihkan sebagian personel dan alat berat ke sektor baru yang dinilai memiliki potensi lebih besar ditemukannya korban.
Direktur Operasi dan Siaga Basarnas Bramantyo mengatakan fokus pencarian yang sebelumnya terkonsentrasi di sektor A1 dan A2 kini diperluas ke sektor B2. Langkah ini diambil setelah dilakukan evaluasi terhadap kondisi lapangan.
“Kalau kemarin kita hanya berada di A1 dan A2 secara maksimal, kemudian pagi ini kita akan merambah ke B2. Jadi beberapa kekuatan yang ada di sektor A2 kita geser ke B2,” kata Bramantyo di Bandung Barat, Selasa (27/1).
Menurut Bramantyo, sektor B2 diprioritaskan karena terdapat indikasi jumlah bangunan rumah terdampak lebih banyak dibandingkan sektor lainnya, sehingga peluang ditemukannya korban juga lebih besar.
“Harapan kita di B2 ini bisa memaksimalkan kegiatan, karena ada indikasi rumah-rumah lebih banyak di sana,” ujarnya.
Dalam perluasan operasi ini, Basarnas memindahkan sebagian personel dari sektor A2 ke sektor B2. Sekitar 100 personel dari Batalion 312 yang sebelumnya berjumlah sekitar 200 orang di sektor A2 dialihkan, ditambah unsur Brimob serta personel SAR dari berbagai potensi lainnya.
“Yang digeser sekitar seratus orang, ditambah rekan-rekan potensi lain. Karena setiap hari potensi terus bertambah,” ujar Bramantyo.
Selain penambahan personel, Basarnas juga menambah dukungan alat berat untuk mempercepat proses pencarian. Hingga saat ini, sebanyak 13 unit ekskavator dikerahkan dalam operasi SAR longsor Cisarua.
“Hingga kini jumlah ekskavator yang digunakan dalam operasi SAR mencapai 13 unit,“ katanya.
Bramantyo menyebutkan jumlah personel yang terlibat dalam operasi SAR terus meningkat. Pada hari ini, hampir seribu personel dikerahkan, meningkat dari hari sebelumnya yang berjumlah sekitar 800 orang.
“Tantangan terbesar hari ini masih sama seperti kemarin, selain faktor alam juga kontur tanah. Karena di lapangan, begitu kita angkat satu bagian, kadang langsung terjadi pergerakan tanah lagi,” kata Bramantyo. []
























