ASPEK.ID, JAKARTA – Tim SAR gabungan mengevakuasi lima jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 melalui jalur udara menggunakan helikopter. Langkah ini ditempuh karena kondisi cuaca dan medan di sekitar lokasi kejadian dinilai tidak memungkinkan untuk evakuasi darat.
Pesawat nahas tersebut jatuh di kawasan Puncak Gunung Bulu Saraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Cuaca di lokasi dilaporkan kerap berubah secara tiba-tiba, disertai kabut tebal dan angin kencang, sehingga menyulitkan proses evakuasi melalui jalur darat.
Selain faktor cuaca, medan yang terjal dan sulit dijangkau turut menjadi pertimbangan utama penggunaan helikopter dalam pengangkutan jenazah korban.
“Jadi kita akan menggunakan evakuasi udara, tetapi tadi sejak ditemukan cuaca kurang mendukung. Namun besok pagi kita lanjutkan lagi, mudah-mudahan kita berdoa bersama cuaca besok pagi, yang khususnya mengambil evakuasi udara dari lima korban tersebut,” kata Asisten Operasi Kepala Staf Kodam Hasanuddin Kolonel Inf Triyo Dody Hadi kepada wartawan, Jumat (23/1).
Saat ini, tim SAR gabungan terus memantau perkembangan cuaca sambil menyiapkan skema evakuasi udara lanjutan. Koordinasi dengan seluruh unsur terkait, termasuk operator helikopter, terus dilakukan guna memastikan proses evakuasi berjalan aman dan lancar.
“Untuk yang lima korban, posisi masih disekitaran TKP, namun sudah kita kumpulkan, kita cari daerah yang terbuka. Karena memang dari awal kita ingin cepat,” ujarnya.
Jenazah yang berhasil dievakuasi melalui jalur udara selanjutnya akan dibawa ke Lanud Hasanuddin. Dari sana, jenazah akan diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri untuk proses identifikasi lebih lanjut. []
























