ASPEK.ID, JAKARTA – Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 akan melikuidasi sejumlah aset untuk memenuhi kewajiban terhadap nasabah. Namun, target pendapatan dari likuidasi baru mencapai separuh dari total kewajiban Bumiputera.
Direktur Utama Bumiputera Dirman Pardosi dilansir dari laman Tempo menuturkan bahwa, jajaran direksi berencana menjual sebagian aset untuk memenuhi kewajiban. Selain itu, manajemen pun akan memberlakukan kerja sama operasional (KSO) aset-aset strategis.
Menurut dia, salah satu aset yang akan diprioritaskan penjualannya adalah Hotel Hyatt Bumi Surabaya. Aset lain yang berpotensi dilikuidasi adalah Hotel Bumi Wiyata Depok.
“Aset-aset lain yang akan kami lepas juga ada TB Simatupang, walau tidak menutup kemungkinan itu di-KSO-kan. Beberapa prime asset kami pun bisa di-KSO-kan seperti Wisma Bumiputera yang kantor pusat itu,” kata Dirman seperti dilansir Bisnis, Selasa (24/12/2019).
Dirman juga menjelaskan bahwa aset-aset strategis lain yang terbuka untuk KSO adalah tanah di Depok, di kawasan Kuningan City, Kebayoran dan Menteng. Aset-aset dari anak perusahaan kemungkinan turut dilibatkan.
“Dari langkah likuiditas dan optimalisasi tersebut, 2020 kami targetkan kurang lebih Rp2 trilliun. Karena untuk membiayai outstanding claim itu ya dari penjualan aset, termasuk nanti dari premi lanjutan,” imbuh Dirman.
Total outstanding claim Bumiputera saat ini mencapai Rp 4 triliun. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari klaim-klaim yang tertunda selama beberapa tahun.
Bumiputera kesulitan membayarkan klaim di tengah kondisi defisit yang mencapai Rp 23 triliun. Jumlah tersebut terus membengkak dari 1997, saat asuransi mutual tersebut mencatatkan defisit Rp 2,6 triliun.
Profil Bumiputera
Asuransi jiwa pertama di Indonesia ini didirikan pada 12 Februari 1912 silam di Magelang, Jawa Tengah. Dipelopori oleh Mas Ngabehi Dwidjosewojo, Mas Karto Hadi Karto Soebroto dan Mas Adimidjojo dengan nama Onderlinge Levensverzekring Maatschappij PGHB (OLMij.PGHB) Boemi Poetra.
Tujuannya, untuk meningkatkan kesejahteraan para guru. Baru pada 1966, namanya berganti menjadi AJB Bumiputera. Dalam perkembangannya kemudian, perusahaan ini tumbuh pesat, dan berhasil masuk dalam daftar 10 besar perusahaan asuransi di Indonesia.
Jangkauannya sangat luas, sampai ke pedesaan. AJB Bumiputera tercatat hingga kini memiliki 474 kantor cabang (termasuk syariah) dengan 29 kantor wilayah di seluruh Indonesia, yang diwakili oleh 11 Badan Perwakilan Anggota.























