ASPEK.ID, JAKARTA – Mundurnya Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman hingga Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan nasional. Merespons situasi tersebut, DPR mendesak pemerintah segera mengambil langkah strategis agar gejolak tidak meluas.
Wakil Ketua Komisi XI DPR Muhamad Hanif Dhakiri menegaskan, ada tiga langkah mendesak yang harus segera disiapkan pemerintah. Langkah pertama adalah memastikan kebijakan fiskal dan pasar keuangan tetap solid guna memberikan sinyal yang konsisten dan kredibel kepada pelaku pasar.
Langkah kedua, menurut Hanif, adalah memperkuat koordinasi lintas otoritas, khususnya antara OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan, agar respons terhadap tekanan pasar dapat dilakukan secara terpadu dan terukur.
“Kedua, memperkuat koordinasi antara OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan agar respons terhadap gejolak pasar berjalan terpadu,” kata Hanif menyikapi mundurnya dirut BEI dan para petinggi OJK, Sabtu (31/).
Langkah ketiga yang dinilai tak kalah krusial adalah menjaga kepercayaan investor melalui komunikasi publik yang transparan dan bertanggung jawab. Hanif menekankan, pernyataan pejabat publik harus disampaikan secara jujur, terukur, serta tidak saling menyalahkan di tengah situasi pasar yang sensitif.
Menurutnya, pelaku pasar tidak alergi terhadap koreksi harga saham, namun sangat responsif terhadap ketidakpastian arah kebijakan.
“Karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah kepastian arah, ketegasan pengelolaan, dan kepemimpinan yang memberi rasa aman,” ujarnya.
Hanif menambahkan, Komisi XI DPR akan terus mengawal reformasi sektor keuangan agar tetap berjalan sehat, transparan, dan berorientasi pada stabilitas jangka panjang.
“Komisi XI akan terus mengawal agar reformasi sektor keuangan berjalan sehat, transparan, dan berpihak pada stabilitas jangka panjang,” imbuhnya.
Ia juga menilai, mundurnya para pimpinan lembaga keuangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari tekanan berat yang dialami pasar saham domestik. Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kata Hanif, mencerminkan kombinasi antara sentimen global dan kegelisahan domestik.
“Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan kepanikan, melainkan kepemimpinan yang tenang, transparan, dan meyakinkan,” katanya. []
























