Jakarta – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarta. Ia mengungkapkan, sebanyak 10% anak di Indonesia terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa terutama gangguan kecemasan dan depresi.
Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal bahaya bagi masa depan bangsa, terutama menjelang berakhirnya era bonus demografi Indonesia pada 2046.
Mengutip hasil skrining program cek kesehatan gratis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) periode 2025–2026, Brian menyebut masalah kecemasan dan depresi cukup banyak ditemukan pada kelompok usia muda.
“Dari 7 juta anak Indonesia yang diskrining, ternyata 10% mengindikasikan masalah kesehatan jiwa. Sekitar 4,4% menunjukkan gejala kecemasan, dan 4,8% menunjukkan gejala depresi,” ungkap Brian di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Selain itu, data pada 2023 mencatat prevalensi depresi tertinggi berada pada kelompok usia 15–24 tahun, yakni mencapai 2% Namun, dari kelompok yang terindikasi mengalami depresi, baru sekitar 10%b yang berinisiatif mencari bantuan medis atau psikologis.
Brian mengingatkan, jika masalah kesehatan mental generasi muda tidak ditangani dengan baik, Indonesia berisiko gagal memanfaatkan bonus demografi. Kondisi tersebut bahkan dapat membuat Indonesia menghadapi krisis penuaan penduduk (aging population), seperti yang dialami Jepang dan sejumlah negara Eropa.
“Kita itu akan selesai (bonus demografi) pada 2046. Setelah itu, jumlah penduduk produktif turun. Akibatnya, pajaknya semakin tinggi karena negara-negara maju yang penduduknya awet tua itu harus menanggung biaya hidup yang sehat terus,” tegasnya.
Di tengah tekanan sosial dan toksisitas ruang digital yang semakin masif, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mendorong perguruan tinggi untuk mengubah stigma terhadap layanan psikologi agar lebih ramah dan mudah diakses mahasiswa.
Menurut Brian, mahasiswa masih kerap merasa malu ke ruang psikolog atau ruang bimbingan dan konseling (BK) karena menganggap dirinya sedang mengalami masalah.
“Mahasiswa itu kalau sudah datang ke ruang psikolog atau ruang BK, rasanya sudah jadi masalah dan menjadi malu. Ke depan, bagaimana kita bisa membuat fasilitas-fasilitas psikologi yang lebih ringan, santai, dan mudah diakses,” jelasnya.
Ia kemudian menganalogikan ketahanan mental masyarakat dengan kekuatan fisik suatu material. Menurutnya, daya tahan suatu material baru dapat diketahui setelah mengalami tekanan atau perlakuan tertentu.
“Kekuatan material itu tidak pernah diketahui kalau dia belum disentuh, ditekan, atau di-treatment. Begitu juga bangsa Indonesia, kita berada pada kondisi persaingan global yang keras. Kita butuh konsolidasi dan wawasan psikologi yang kuat agar generasi kita tangguh,” tandas Brian.















