ASPEK.ID, JAKARTA – Mengikuti perkembangan wabah virus Corona atau Covid-19, khususnya di Indonesia, kita terkadang dihadapkan pada kata-kata atau istilah tak lazim serta jarang didengar.
Bahkan, nama rumah sakit juga ikut santer terdengar akhir-akhir ini. Apalagi rumah sakit yang menjadi pusat perawatan dan penanganan pasien yang positif terinfeksi virus Corona, yakni Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.
Rumah sakit yang terletak di Jl. Baru Sunter Permai Raya, Jakarta Utara ini secara resmi berdiri pada 21 April 1995. RSPI Sulianti Saroso berawal saat didirikannya stasiun karantina di daerah pelabuhan Tanjung Priok pada 1985 untuk menampung penderita penyakit cacar dari Jakarta dan sekitarnya, dimana di antara tahun 1964 sampai tahun 1970 merawat penderita cacar sekitar 2.358 orang.
Sebenarnya, RSPI Sulianti Saroso telah lebih dulu populer karena menjadi rumah sakit rujukan awal seiring merebaknya kasus SARS, Flu burung dan Difteri di Jakarta.
Namun, tahukah Anda tentang nama Sulianti Saroso yang melekat pada nama rumah sakit tersebut? Berikut Aspek.id tampilkan profilnya.
Profil Sulianti Saroso
Memiliki nama lengkap Prof. Dr. dr. Julie Sulianti Saroso, MPH, wanita ini lahir di Karangasem, Bali pada 10 Mei 1917 dan meninggal 29 April 1991 pada umur 73 tahun. Dia adalah salah satu tokoh kedokteran asal Indonesia.
Lulus sekolah kedokteran pada 1942 dari GHS (sekolah tinggi kedokteran) di Jakarta, dia meneruskan pendidikannya di Inggris, Skandinavia, USA dan Malaysia selama 2 tahun (1950 sampai 1951) dan mendapatkan Certificate of Public Health Administrasion dari Universitas London.
Pada tahun 1962 ia memperoleh gelar MPH (Master of Public Health) dan TM (Tropical Medicine), kemudian gelar Doctor of Public Health (Epidemiologi) tahun 1965 setelah mempertahankan disertasi yang berjudul The Natural History of Enteropathogenic Escherechia Coli Infections di Tulane Medical School, New Orleans, Louisiana, USA.
Setelah tamat dari sekolah kedokteran tahun 1942, ia bekerja di bagian Penyakit Dalam CBZ, Jakarta. Setelah kemerdekaan RI, ia melanjutkan kariernya di RS Bethesda Yogyakarta bagian penyakit anak. Tahun 1951 ia memulai kariernya di Kementerian Kesehatan.
Di situ ia menjabat berbagai posisi yaitu Kepala bagian Kesejahteraan Ibu dan Anak, Kepala Hubungan Luar Negeri, Wakil Kepala Bagian Pendidikan, Kepala Bagian Kesehatan Masyarakat Desa dan Pendidikan Kesehatan Rakyat, dan Kepala Planning Board.
Tahun 1967 ia diangkat menjadi Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan dan Pembasmian Penyakit Menular (P4M) dan merangkap Ketua Research Kesehatan Nasional (LRKN) Departemen Kesehatan. Pada tahun 1969, ia dikukuhkan sebagai Profesor pada Universitas Airlangga Surabaya dengan mengucapkan pidato pengukuhan “Pendekatan Epidemiologis dalam Menanggulangi Penyakit”.
Pada 1975 ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Dirjen P4M dan diangkat menjadi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan sampai dengan 1978. Pada 1978 ia diangkat menjadi anggota tim perumus dan evaluasi Program Utama Nasional Bidang Ristek yang diperbantukan pada Menteri Negara Ristek.
Pada 1 Januari 1979 ia diangkat menjadi Staf Ahli Menteri Kesehatan. Pada 1979 ia ditunjuk sebagai anggota Board of Trustess of the International Center of Diarhoeal Disease Research Bangladesh dan menjabat Chairman of the Board selama setahun dari 1979 sampai 1980. Pada 1981 menjadi penasehat Proyek Perintis Bina Keluarga dan Balita di bawah Menteri Muda Urusan Peranan Wanita.
Pada tahun 1982 diangkat menjadi Dosen pada Lembaga Kedokteran Gigi Dinas Kesehatan Angkatan Laut. Julie juga pernah menjabat Ketua Gugus Tugas Penyusunan Rencana Lima tahun PELITA II sektor Kesehatan, pernah mewakili Pemerintah RI dalam sidang-sidang Internasional di Bidang Kesehatan, menjadi anggota WHO Expert Committee of Maternity and Child Health, anggota Komisi PBB Community Development di Negara-negara Afrika, anggota Honorary Society on Public Health Delta Omega, anggota WHO Expert Committee of Internasional Surveilance of Communicable Diseases, anggota Komisi Nasional Kedudukan Wanita Indonesia, President of the World Health Assembly dan anggota Badan Eksekutif WHO.
Selama masa perjuangan kemerdekaan (1946-1949), ia bekerja mengusahakan obat-obatan dan makanan di kantong-kantong gerilya daerah Tambun Gresik, Demak dan Yogyakarta, sehingga sempat ditawan tentara Belanda selama dua bulan di IVG Yogyakarta.
Sulianti Saroso juga aktif di Organisasi Pemuda putri Indonesia (PPI). Ia juga anggota Dewan Pimpinan KOWANI dan badan Kongres Pemuda Republik Indonesia. Kemudian bersama teman-temannya, ia juga membentuk Laskar Wanita yang diberi nama WAPP (Wanita Pembantu Perjuangan). Pada tahun 1947 mewakili Indonesia di Kongres Wanita di India.
Julie Sulianti Saroso juga adalah salah satu dari dua orang wanita yang pernah menjabat Presiden Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) selain Rajkumari Amrit Kaur dari India. Julie menjabat pada tahun 1973 sedangkan Rajkumari menjabat tahun 1950. Keduanya berasal dari benua Asia.
Untuk menghormati jasa-jasanya, sebuah rumah sakit di Jakarta diberi nama oleh Pemerintah Indonesia sesuai dengan namanya yaitu Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso.
Baca juga Protokol Kesehatan Bandara Soekarno-Hatta Terbaik di Dunia





















