Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menyarankan pemerintah belajar mengelola BBM bersubsidi dari Timor Leste. Faisal menuturkan, cadangan minyak dalam negeri terus menyusut hingga diperkirakan akan habis dalam waktu maksimal 9 tahun lagi. Padahal, ketika masih bisa memproduksi saja, pemerintah sudah kesulitan mengendalikan harga BBM sehingga harus ada subsidi energi.
“Negara tetangga kita, saudara dekat kita, Timor Leste itu lebih bijak dalam melihat BBM ini,” ujarnya dalam webinar “Menemukan Jalan Subsidi BBM Tepat Sasaran”, dikutip Rabu (31/8/2022).
Faisal mengungkapkan kebijaksanaan Timor Leste dalam mengelola cadangan minyaknya terlihat dari penentuan harga BBM di negara itu yang cenderung lebih mahal dari Indonesia. Padahal, kata dia, Timor Leste merupakan salah satu produsen dan eksportir migas hingga saat ini.
“Lebih mahal dari Indonesia walaupun dia produsen dan eksportir BBM. Karena apa? Dia enggak mau kasih subsidi suka-suka. Mereka sisihkan 30% dari pendapatan minyaknya itu dalam bentuk oil fund,” jelasnya.
Faisal membeberkan bahwa dengan penetapan harga minyak yang lebih sesuai dengan harga pasaran dan tidak sembarangan memberikan subsidi energi, pemerintah Timor Leste mampu memanfaatkan dana yang diperoleh dari penjualan minyak mentah itu untuk kepentingan masyarakat lebih luas.
“Dana minyak itu untuk beasiswa, sekolah, bangun infrastruktur, EBT (energi baru dan terbarukan) energi solar, dan sebagainya itu. Nah itu Timor Leste, memang negaranya relatif kecil,” ujarnya.
Selain Timor Leste, banyak juga negara lain yang lebih cermat mengelola cadangan minyaknya. Misalnya salah satu negara dengan cadangan minyak yang besar, yaitu Norwegia. Negara itu punya juga memiliki oil fund yang jumlahnya setara Rp1.300 triliun.
“Walaupun kaya minyak tapi tabungan dari minyaknya itu Rp1.300 triliun, jadi dia enggak susah. Denmark juga dengan itu Anda dikasih USD10.000 per bulan untuk kuliah. Kuliah dikasih duit. Kalau kit, kan bayar mahal jalur A, B, C. Pokoknya ribet deh komersialisasi pendidikan itu,” ungkapnya.
























