ASPEK.ID, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global. BI menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan fundamental ekonomi domestik yang solid, meski pada perdagangan hari ini sempat mengalami tekanan terbatas.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah tipis 0,03% ke level Rp16.785 per dolar AS pada Senin (2/2). Padahal, pada awal perdagangan pagi, mata uang Garuda sempat menguat 0,06% ke posisi Rp16.770 per dolar AS. Meski demikian, pergerakan tersebut dinilai masih dalam rentang yang terkendali.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa tren rupiah belakangan menunjukkan penguatan bertahap dibandingkan periode sebelumnya.
“Jadi kemarin-kemarin kan di level Rp 16.900-an kan ya, pelan-pelan kemudian sekarang di level Rp 16.700-Rp 16.800. Kita tentunya optimis bagaimana disampaikan Pak Gubernur bahwa rupiah akan cenderung menguat,” kata dia.
Optimisme tersebut, menurut BI, didorong oleh prospek ekonomi nasional yang tetap kuat serta daya tarik imbal hasil surat berharga Indonesia yang masih kompetitif di mata investor global.
“Karena prospek ekonomi Indonesia, karena fundamental Indonesia bagus, dan juga tentunya karena yield surat berhaga Indonesia yang kompetitif. Dan kita harapkan semua pihak juga bisa ikut sama-sama menciptakan kondisi yang kondusif untuk pasar keuangan Indonesia yang lebih baik,” ujarnya.
BI menegaskan akan terus hadir di pasar keuangan guna memastikan nilai tukar bergerak sesuai dengan fundamental ekonomi. Intervensi, baik di pasar domestik maupun offshore, akan dilakukan secara terukur bila diperlukan untuk menjaga stabilitas.
“Artinya BI tetap akan mengoptimalkan semua instrumen yang ada untuk membawa rupiah itu stabil dan cenderung menguat, kan gitu ya. Dan ini yang kita lakukan apabila diperlukan bisa intervensi ya, baik di pasar domestik maupun di pasar offshore. Dan tentunya kan secara bertahap rupiah bisa dibuat stabil,” sebut dia.
Terkait kemungkinan rupiah kembali menguat hingga ke level Rp15.000 per dolar AS, BI menegaskan tidak memiliki target nilai tukar tertentu. Fokus bank sentral tetap pada stabilitas, bukan pada angka spesifik.
“Artinya kita tidak akan me-level kan ya, tapi yang penting adalah bagaimana rupiah tetap stabil, dan setelah bertahap itu menguat, kan gitu ya. Jadi tentunya ini semuanya tergantung faktor global dan juga domestik,” pungkasnya. []
























