ASPEK.ID, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menilai koreksi yang terjadi pada sejumlah saham di pasar modal Indonesia merupakan konsekuensi wajar dari valuasi yang sudah terlalu tinggi.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan tekanan jual yang terjadi usai penyesuaian kebijakan free float oleh MSCI menjadi momen seleksi alami bagi pasar. Saham-saham dengan valuasi mahal menjadi yang paling terdampak.
“Memang banyak retail melihat nih banyak saham-saham yang kemarin saya bilang uninvestability atau saham-saham yang memang dengan valuasi yang sangat tinggi (kemahalan) mengalami koreksi,” ujarnya saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, dikutip Selasa (3/2).
Sebaliknya, Pandu menyebut saham-saham dengan fundamental solid justru mulai kembali diminati investor. Pada sesi I perdagangan hari ini, investor asing tercatat masih melakukan akumulasi pembelian pada saham-saham tertentu.
“Kalau dilihat saham-saham yang fundamental itu mengalami malah net buy dan positif. Jadi ini menarik juga kalau lihat top 10, top 15 buy, top 10, top 15 sell, seperti yang kita bicarakan hari Minggu kemarin malah memang sekarang mulai terjadi,” sebutnya.
Dalam kondisi pasar seperti ini, Danantara mengaku aktif memanfaatkan peluang dengan melakukan pembelian pada saham-saham yang dinilai memiliki valuasi menarik.
“Kami bilang memiliki valuasi yang menarik, perusahaan yang baik dengan cash flow yang baik, dan juga dengan fundamental dan likuiditas yang baik. Jadi begitu ya,” tutupnya. []
























