ASPEK.ID, JAKARTA – Sekretaris PT Timah (TINS) Muhammad Zulkarnaen mengatakan, pihaknya mulai melirik proyek logam tanah jarang.
Komoditas ini bisa menjadi sumber baru bagi Indonesia yang selama ini belum dimanfaatkan.
Diketahui, PT Timah melaksanakan Pilot Plant pengolahan monasit menjadi Rare Earth Hydroxide (REOH) di Tanjung Ular, Bangka Barat sejak 2015 silam.
Saat ini PT Timah sedang mengoptimalkan perbaikan proses dan kualitas produk Pilot Plant REOH dengan mengkomparasikan teknologi yang dikembangkan di Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) – Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
“Setelah itu, pilot plant tersebut akan dikembangkan sebagai pendamping commercial plant dalam rangka feed test work untuk menjadi acuan proses di pabrik komersial skala industri,” ujar Zulkarnaen dilansir dari Republika, Ahad (21/11/2020).
Dia menerangkan, TINS bersama MIND ID selaku induk holding pertambangan BUMN terus melakukan upaya percepatan pengembangan LTJ.
Langkah ini dimulai dari pengumpulan data sumber daya berdasarkan kegiatan eksplorasi sampai diperolehnya kepastian pemenuhan keberlanjutan usaha yang bekerja sama dengan institusi terkait.
Disebutkan, teknologi yang digunakan dalam pengolahan LTJ merupakan teknologi yang tertutup dan strategis secara geopolitik.
“Makanya, fokus proyek di TINS saat ini melakukan pemilihan teknologi dan technology provider,” jelas Zulkarnaen.
Pemilihan teknologi ini tentu berkaitan juga dengan parameter ramah lingkungan, yield product antara intermediate ataupun hilir, proven reliability dalam pengembangan, serta tentu saja teknologi tersebut harus bankable.
“Kemitraan yang akan dilakukan TINS tak hanya sebatas penyediaan teknologi, melainkan diharapkan juga kemitraan sebagai offtaker produk LTJ di masa mendatang,” tandasnya.






















