ASPEK.ID, JAKARTA – Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menilai prospek pasar modal Indonesia ke depan semakin positif dan berpeluang besar meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun global.
Rosan menyebut pasar modal kerap menjadi barometer awal bagi investor asing dalam menilai stabilitas dan kredibilitas ekonomi suatu negara. Kepercayaan di bursa saham, kata dia, biasanya akan menjadi pintu masuk bagi investasi langsung atau foreign direct investment (FDI).
“Kepercayaan terhadap pasar modal merupakan indikator utama bagi investor asing. Investasi di pasar modal bersifat lebih likuid dan jangka pendek dibandingkan investasi langsung. Jika pasar modal kita dipercaya, maka investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) ke Indonesia akan mengikuti,” kata Rosan, Senin (2/2).
Menurut Rosan, penguatan kepercayaan investor tidak terlepas dari penataan kepemimpinan di sektor pasar modal. Ia menilai penunjukan jajaran pimpinan baru di lembaga-lembaga strategis menjadi langkah penting dalam memperbaiki tata kelola dan integritas pasar.
Ia menyebut sejumlah nama kunci, mulai dari Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Jeffrey Hendrik sebagai Penjabat Sementara Direktur Utama BEI, hingga Idin Pardi dan Samsul Hidayat yang masing-masing memimpin KPEI dan KSEI.
Dengan formasi tersebut, Rosan meyakini pengawasan dan pengelolaan pasar modal akan berjalan lebih detail dan berorientasi pada peningkatan kepercayaan publik.
“Saya meyakini para direksi baru di OJK maupun BEI memiliki perhatian yang lebih detail, sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Rosan menegaskan Danantara Indonesia memberikan dukungan penuh terhadap berbagai program dan inisiatif reformasi yang akan segera diluncurkan untuk memperkuat pasar modal nasional. Menurutnya, Danantara memiliki kepentingan strategis dalam menjaga kredibilitas dan keberlanjutan ekosistem pasar modal.
“Sekitar 30% total kapitalisasi pasar berada di pasar modal. Karena itu, kami bersama OJK dan seluruh self-regulatory organization (SRO) berkepentingan menjaga pasar modal agar benar-benar mencerminkan valuasi perusahaan secara tepat dan memberikan persepsi positif bagi investor,” pungkas Rosan. []
























