ASPEK.ID, JAKARTA – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (TIW) membeberkan hasil pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan para mantan Menteri Luar Negeri dan Wakil Menteri Luar Negeri, akademisi hubungan internasional, serta pimpinan Komisi I DPR RI, yang digelar di Istana Negara, Rabu (4/2).
Teddy menjelaskan, pertemuan tersebut menjadi forum diskusi strategis terkait perkembangan dan dinamika politik luar negeri Indonesia di tengah situasi global yang terus berubah.
Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo menyampaikan penjelasan menyeluruh mengenai kondisi geopolitik terkini yang dihadapi Indonesia, sekaligus membuka ruang dialog dengan para tokoh yang hadir. Prabowo juga mendengarkan berbagai masukan serta menjawab sejumlah pertanyaan terkait arah kebijakan luar negeri ke depan.
Menurut Teddy, terdapat dua poin utama yang menjadi inti pembahasan. Pertama, penegasan bahwa diplomasi luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo tetap berorientasi pada hasil konkret yang memberikan manfaat langsung bagi kepentingan nasional.
Kedua, Presiden Prabowo memberikan penjelasan secara detail mengenai posisi dan peran Indonesia dalam Board of Peace (Dewan Perdamaian), sebuah forum yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, serta implikasinya bagi kebijakan luar negeri Indonesia.
Berikut unggahan lengkapnya dikutip dari media sosial Instagram @sekretariat.kabinet:
Inti dari pertemuan tersebut adalah sebagai berikut:
- Presiden menjelaskan bahwa setiap diplomasi luar negeri yang beliau lakukan, selalu mengutamakan pencapaian yang konkret untuk bangsa Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal penting yang telah dicapai dalam 1 tahun terakhir ini:
a. Indonesia bergabung dengan BRICS, yang beranggotakan, di antaranya Brasil, Rusia, Tiongkok, dan India yang merupakan kekuatan ekonomi dunia.
b. Penetapan tarif dagang 0% di 27 negara Uni Eropa.
c. Kesepakatan pembangunan Kampung Haji di Arab Saudi di mana Indonesia akan mempunyai fasilitas sendiri, khusus bagi jemaah haji Indonesia.
d. Indonesia turut mencatat sejarah dengan ikut menandatangani perjanjian perdamaian Palestina yang diinisiasi AS. Pascapenandatanganan perjanjian, jumlah konflik dan korban pun telah berkurang signifikan.
e. Dan berbagai hasil konkret lainnya.
- Mengenai Board of Peace:
a. Keanggotaan bersifat tidak bersifat tetap. Indonesia sewaktu-waktu dapat menarik diri dari keanggotaan.
b. Mengenai biaya USD 1 miliar, adalah untuk dana rekonstruksi Gaza, dan tidak bersifat wajib.
- Saat ini Indonesia resmi bergabung bersama 7 negara besar dengan mayoritas penduduk beragama Islam lainnya, yakni Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, Qatar, UAE, dan Pakistan.
- Para negara anggota boleh membayar atau tidak. Jika membayar maka akan menjadi anggota tetap. Namun bila tidak membayar, maka keanggotaan akan berlangsung selama 3 tahun. Saat ini, Indonesia belum membayar.
c. Keikutsertaan Indonesia merupakan langkah konkret untuk turut serta secara langsung dalam mengurangi peperangan di Palestina, dan bukan hanya sebatas ikut konferensi, rapat, diskusi, atau pertemuan resmi
























