ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada kemungkinan peresmian dan pembukaan kembali Gedung Sarinah pasca-renovasi akan diundur ke awal 2022.
Proses renovasi telah dimulai sejak akhir Juli 2020 dan ditargetkan selesai pada November 2021. Diperkirakan, renovasi ini membutuhkan biaya sekitar Rp700 miliar.
Department Store sekaligus pencakar langit pertama di Indonesia ini pernah direnovasi setelah mengalami kebakaran pada 1984, yang pada akhirnya facade tower gedung dan podium tersebut ditutup aluminium, tangga outdoor diberi atap, dan tambahan setempat 1 lantai pada area podium.
“Sarinah kami ubah, ada offline-nya tapi nanti pelan-pelan online-nya sinergi saja. Untuk offline-nya, kami mau Sarinah menjadi rumahnya budaya Indonesia, tahun 1960 hal ini yang dicita-citakan oleh Presiden Soekarno. Mohon maaf yang tadinya mau 10 November 2021 sepertinya akan tertunda atau delay lagi, baru awal tahun depan karena kondisi Covid-19,” ujar Erick Thohir dilansir Antara dalam diskusi daring di Jakarta, Sabtu (17/7).
Erick menginginkan Sarinah menjual dan memasarkan produk atau merek lokal, namun Sarinah juga harus memiliki kanal pemasaran di luar negeri dengan menjalin kerja sama dengan ritel bebas cukai atau duty-free ternama dunia Dufry.
Dufry merupakan perusahaan terkemuka di bidang travel ritel dengan lebih dari 2400 gerai di 400 lokasi di dunia.
“Dalam penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Dufry kita minta 10 produk Indonesia mereka harus jual, apakah itu kopi, teh, cokelat dan sebagainya. Dan ini tentunya dikurasi,” katanya.
Sebelumnya Direktur Operasi III PT Wijaya Karya Sugeng Rochadi mengatakan untuk memastikan keamanan bangunan sebelum direnovasi, pihak kontraktor telah menggandeng tim independen dari beberapa tenaga ahli untuk memastikan konstruksi ini yang layak dikembangkan.
Dia menambahkan karena ini salah satu cagar budaya maka bentuk bangunan asli termasuk karya seni rupa patung relief akan dijaga keasliannya.























