ASPEK.ID, JAKARTA – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk saat ini sedang mempersiapkan penerbitan surat utang yang mencapai Rp5 triliun sebagai upaya perseroan merefinancing obligasi jatuh tempo.
Hal itu disampaikan Direktur Keuangan Wijaya Karya, Ade Wahyu, bahwa perseroan akan menerbitkan penawaran umum berkelanjutan obligasi dan sukuk dengan target nilai mencapai Rp5 triliun yang akan dilakukan dalam dua tahap.
“Penerbitan PUB Obligasi dan Sukuk akan dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama ditargetkan pada kuartal IV/2020 dan tahap kedua pada kuartal 1/2021,” ujar Ade Wahyu dilansir dari Bisnis.
Ia juga menjelaskan penerbitan surat utang tersebut dalam rangka upaya perseroan untuk refinancing global komodo bonds perseroan yang akan jatuh tempo pada Januari 2021 sebesar Rp5,4 triliun.
Tidak hanya itu, sebagian hasil penggalangan dana tersebut rencananya juga akan digunakan untuk modal kerja perseroan.
Seperti diketahui, lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings telah menurunkan Peringkat Jangka Panjang Mata Uang Asing dan Mata Uang Lokal Issuer Default Rating (IDR) perusahaan konstruksi milik negara PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) ke ‘BB-‘ dari ‘BB’.
Pada saat bersamaan, Fitch Ratings Indonesia telah menurunkan Peringkat Nasional Jangka Panjang WIKA ke’A(idn)’, dari ‘AA-(idn)’. Semua peringkat ditempatkan dalam Rating Watch Negatif (RWN).
Penurunan peringkat mengikuti aksi revisi Fitch untuk Standalone Credit Profile (SCP) WIKA ke ‘b-‘ dan ‘bbb-(idn)’, dari ‘b’ dan ‘bbb+(idn)’, secara berurutan. Ini merefleksi performa kuartal-II perusahaan yang secara signifikan lebih lemah dari ekspektasi Fitch, dimana leverage (diukur dengan net debt/EBITDA) meningkat diatas 5x; tingkat dimana Fitch dapat melakukan aksi pemeringkatan negatif. Fitch memproyeksikan leverage akan tetap tinggi dalam beberapa tahun kedepan.
























